:::: MENU ::::

Informasi Bisnis dan Umum

Peta Materi - Kelas 10 - Bahasa Inggris

Kelas 10
Bahasa Inggris
Semester 1
1. Memahami makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal dalam konteks kehidupan sehari-hari
1.1 Merespon makna yang terdapat dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi yang menggunakan ragam bahasa lisan sederhana secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: berkenalan, bertemu/berpisah, menyetujui ajakan/tawaran/ undangan, menerima janji, dan membatalkan janji
1.2 Merespon makna yang terdapat dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi yang menggunakan ragam bahasa lisan sederhana secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: mengungkapkan perasaan bahagia, menunjukkan perhatian, menunjukkan simpati, dan memberi instruksi
2. Memahami makna teks fungsional pendek dan teks monolog sederhana berbentuk recount, narrative dan procedure dalam konteks kehidupan sehari-hari
2.1 Merespon makna secara akurat, lancar dan berterima dalam teks lisan fungsional pendek sederhana (misalnya pengumuman, iklan, undangan dll.) resmi dan tak resmi dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari
2.2 Merespon makna dalam teks monolog sederhana yang menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar dan berterima dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dalam teks: recount, narrative, dan procedure
3. Mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal dalam konteks kehidupan sehari-hari
3.1 Mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima dengan menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: berkenalan, bertemu/berpisah, menyetujui ajakan/tawaran/ undangan, menerima janji, dan membatalkan janji
3.2 Mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima dengan menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: mengungkapkan perasaan bahagia, menunjukkan perhatian, menunjukkan simpati, dan memberi instruksi
4. Mengungkapkan makna dalam teks fungsional pendek dan monolog berbentuk recount, narrative dan procedure sederhana dalam konteks kehidupan sehari-hari
4.1 Mengungkapkan makna dalam bentuk teks fungsional pendek (misalnya pengumuman, iklan, undangan dll.) resmi dan tak resmi dengan menggunakan ragam bahasa lisan dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari.
4.2 Mengungkapkan makna dalam teks monolog sederhana dengan menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar dan berterima dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk: recount, narrative, dan procedure
5. Memahami makna teks tulis fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk recount, narrative dan procedure dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan
5.1 Merespon makna dalam teks tulis fungsional pendek (misalnya pengumuman, iklan, undangan dll.) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan
5.2 Merespon makna dan langkah retorika teks tulis esei secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan dalam teks berbentuk: recount, narrative, dan procedure
6. Mengungkapkan makna dalam teks tulis fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk recount, narrative, dan procedure dalam konteks kehidupan sehari-hari
6.1 Mengungkapkan makna dalam bentuk teks tulis fungsional pendek (misalnya pengumuman, iklan, undangan dll.) resmi dan tak resmi dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari
6.2 Mengungkapkan makna dan langkah-langkah retorika secara akurat, lancar dan berterima dengan menggunakan ragam bahasa tulis dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk: recount, narrative, dan procedure

Semester 2
7. Memahami makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal dalam konteks kehidupan sehari-hari
7.1 Merespon makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima yang menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: berterima kasih, memuji, dan mengucapkan selamat
7.2 Merespon makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima yang menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: menyatakan rasa terkejut, menyatakan rasa tak percaya, serta menerima undangan, tawaran, dan ajakan
8. Memahami makna dalam teks fungsional pendek dan monolog yang berbentuk narrative, descriptive, dan news item sederhana dalam konteks kehidupan sehari-hari
8.1 Merespon makna yang terdapat dalam teks lisan fungsional pendek sederhana (misalnya pengumuman, iklan, undangan dll.) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari
8.2 Merespon makna dalam teks monolog sederhana yang menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk; narrative, descriptive, dan news item
9. Mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal dalam konteks kehidupan sehari-hari
9.1 Mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima dengan menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: berterima kasih, memuji, dan mengucapkan selamat
9.2 Mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima dengan menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: menyatakan rasa terkejut, menyatakan rasa tak percaya, serta menerima undangan, tawaran, dan ajakan
10. Mengungkapkan makna dalam teks fungsional pendek dan monolog sederhana berbentuk narrative, descriptive dan news item dalam konteks kehidupan sehari-hari
10.1 Mengungkapkan makna dalam bentuk teks lisan fungsional pendek (misalnya pengumuman, iklan, undangan dll.) resmi dan tak resmi dengan menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari
10.2 Mengungkapkan makna dalam teks monolog sederhana dengan menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk: narrative, descriptive, dan news item
11. Memahami makna teks fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk narrative, descriptive dan news item dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan
11.1 Merespon makna dalam teks fungsional pendek (misalnya pengumuman, iklan, undangan dll.) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima yang menggunakan ragam bahasa tulis dalam konteks kehidupan sehari-hari
11.2 Merespon makna dan langkah-langkah retorika dalam esei sederhana secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan dalam teks berbentuk narrative, descriptive, dan news item
12. Mengungkapkan makna dalam teks tulis fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk narrative, descriptive dan news item dalam konteks kehidupan sehari-hari
12.1 Mengungkapkan makna dalam bentuk teks tulis fungsional pendek (misalnya pengumuman, iklan, undangan dll.) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima yang menggunakan ragam bahasa tulis dalam konteks kehidupan sehari-hari
12.2 Mengungkapkan makna dan langkah retorika dalam esei sederhana secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk narrative, descriptive, dan news item

BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir, seperti dalam memperoleh pengetahuan, mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan, menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian, serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari.
Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah, yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar, psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar, tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar, untuk mengoreksinya.
Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif, efektif, konatif sampai pada taraf psikomotis, baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri, tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. Oleh karena itu, psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif, tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain, seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar, dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. Namun, dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah.
Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif, maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar, terutama untuk domain kognitif. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi, yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori, yaitu Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif, Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat, Pemahaman, Penerapan, Analisis, Evaluasi dan Membuat. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif, yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat, penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman, dan seterusnya.
Pengetahuan (Knowledge) / C1
Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika, terminologi dan peristilahan, fakta-fakta, keterampilan dan prinsip-prinsip.
Pemahaman (Comprehension)/C2
Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Dalam tingkatan ini, siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ide-ide lain degan gejala implikasinya.
Penerapan (Aplication)/C3
Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut, seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya.
Analisis (Analysis)/C4
Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis, yaitu: (i) analisis elemen/bagian; (ii) analisis hubungan; dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika, sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai, berkaitan dan bermamfaat. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian, menemukan hubungan antarbagian, fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian.
Sistesis (Syntesis)/C5
Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. Dalam matematika, sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika.
Evaluasi( Evaluation)/C6
Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide, kreasi, cara atau metode. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranah-ranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya, mulai dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis hingga sintesis. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru, pemahaman yang lebih baik, penerapan baru, dan cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis, misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal, seperti akurasi, logika dan konsistensi, dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal, seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya.
Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak, yaitu (1) proses perolehan informasi baru, (2) proses transformasi pengetahuan, dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang.
Dalam transformasi pengetahuan, orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis, 2006).
Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang, maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan.
Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.
Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.
Oleh karena itu, peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok.
Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar mengajar antara guru dengan peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
Objek-objek Pembelajaran Matematika
Menurut Gagne, secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika, yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects).
Objek-objek langsung
a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika, seperti lambang-lambang. Di dalam matematika, fakta merupakan sesuatu yang harus diterima, tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”.
b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek, apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain, misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda, tetapi mempunyai jangkauan yang sama.
c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”, “perkalian”, “gabungan”, “irisan dan sebagainya.
d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar, yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. ( p.q = 0 Û p = 0 atau q = 0).
Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berfikir analitis, sikap positif terhadap matematika, ketelitian, ketekunan, kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika.
Pengetahuan dalam kajian filsafat
Menurut Burhanuddin Salam (Amsal, 2007), mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat, yaitu:
1. Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah, benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. Dengan common sense, semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu, di mana mereka akan berpendapat sama semuanya.
2. Pengetahuan ilmu, yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam, yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense, atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. Namun, dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu, diperolehnya melalui observasi, eksprimen, klasifikasi. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi, pemikiran logika diutamakan, netral, dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif), karena dimulai dari fakta. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia.
3. Pengetahuan filsafat, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid, filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis, sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali.
4. Pengetahuan Agama, yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok, yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan, yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia, yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan, juga informasi tentang Hari Akhir. Iman pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya.
Dimensi Pengetahuan
Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif, kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya; mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. Siswa bukan penerima yang pasif, merekam informasi yang didapat dari orang tuanya, guru, buku teks ataupun media saja. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti.
Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan, khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif, maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum, yaitu Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif.
Pengetahuan Faktual
Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik, pemahaman, dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain.
Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek
Pengetahuan Istilah
Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata, bilangan-bilangan, tanda-tanda, gambar-gambar). Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus.
Contohnya :
• Pengetahuan tentang alfabet.
• Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan.
• Pengetahuan tentang kosakata melukis.
• Pengetahuan tentang akunting.
• Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan.
• Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat.
Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya
Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber informasi, dan sebagainya. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat, contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi, seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi.
Contohnya:
• Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial.
• Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan, kewarganegaraan, kebutuhan manusia dan ketertarikannya.
• Pengetahuan nama-nama penting, tempat, dan peristiwa dalam berita.
• Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah.
Pengetahuan Konseptual
Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit, dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. Seperti, skema, model mental, atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan, bagaimana bagian-bagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik, dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. Contohnya, rotasi bumi, matahari, rotasi bumi mengelilingi matahari.
Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori
Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori, divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka, dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik.
Contohnya :
• Pengetahuan macam-macam tipe literatur.
• Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha.
• Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda, kata kerja, kata sifat)
• Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda.
• Pengetahuan periode waktu yang berbeda.
Pengetahuan Dasar dan Umum
Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan, memprediksikan, menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil.
Contohnya :
• Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus.
• Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar.
• Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan.
• Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran.
Pengetahuan Teori, Model dan Struktur
Pengetahuan teori, model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas, pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit, masalah, atau materi. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak.
Contohnya:
• Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia.
• Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi, fungsi)
• Pengetahuan evolusi.
• Pengetahuan teori tektonik.
• Pengetahuan model genetika (DNA).
Pengetahuan Prosedural
Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Seperti pengetahuan keterampilan, algoritma, teknik-teknik, dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah.
Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma
Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Prosedur perkalian dalam aritmetika, ketika diterapkan, hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural, hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual.
Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural, jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. Sekali lagi, penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Contohnya :
• Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air.
• Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur
• Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat
Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus
Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus, persetujuan, atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi, eksperimen, atau penemuan.
Contohnya :
• Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial.
• Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah.
• Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan.
• Pengetahuan macam-macam metoda literatur.
Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat
• Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori, persuasif).
• Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar.
• Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen.
• Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air.
Pengetahuan Metakognitif
Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. Apabila kesedaran ini wujud, seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang, memantau dan menilai apa yang dipelajari. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri
Pengetahuan Strategi
Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari, memikirkan dan menyelesaikan masalah. Contohnya:
• Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi.
• Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan.
• Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan.
Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif, termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional
Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak, bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif.
Contohnya :
• Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh, jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh, pilihan berganda).
• Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum.
• Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh, mengingat nomor telepon).
Pengetahuan Itu Sendiri
Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Contohnya, siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey, karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian.
Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika
Secara psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto, 1991:2). Definisi ini menyiratkan dua makna. Pertama, bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Kedua,
perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Misalnya, ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, keterampilannya meningkat, sikapnya semakin positif, dan sebagainya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar.
Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. Namun demikian, kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. Sehubungan dengan hal ini, para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar.
Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik
Thorndike, salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton, 1991:39; Resnick, 1981:12), menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Selanjutnya, Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi, maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat; (2) Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti (idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat.
Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner, berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif sebagai stimulus, apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell, 1981:151).
Menurut Gagne (dalam Hudojo, 1990:32), bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. Tahap pertama pemahaman, setelah seseorang yang belajar diberi stimulus, maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). Pengetahuan yang diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat, yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Terakhir adalah tahap keempat, yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga.
Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon.
Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik
Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar, diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. Menurut Kohler (dalam Orton, 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon, tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. Katona, seorang ahli psikologi gestalt yang lain, juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur, melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford, 1981:143-144).
Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton, 1990:89). Jadi, menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami.
Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik
Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru, yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Selanjutnya, Piaget (dalam Bell, 1981: Stiff dkk., 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi, konsep, dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut.
Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell, 1981:143).
Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika
Menurut pandangan penganut psikologi gestalt, persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. Artinya, pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan, tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. Kemudian, akan terbentuk suatu pengetahuan baru.
Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika
Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk, belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. Artinya, melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. Dengan demikian, hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika.
Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows, 1992:106). Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut.
(1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
(2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
(3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
(4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.
(5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
(6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson dkk, 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Longman.
Bakhtiar, Amsal, 2007. Filsafat Ilmu. Jakarta, Raja Grafindo Persada
Hadis Abdul, 2006. Psikologi dalam Pendidikan. Bandung: Afabeta
Muhkal, Mappaita, 2006. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Universitas Negeri Makassar.
Suherman dkk, 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, JICA.
Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Grasindo.
Wowo SK, Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Diakses pada hari Rabu, tanggal 8 oktober 2008 pukul 14.15 Wita.
***
Boleh jadi tanggal 14 Februari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi lainnya. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari Valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa ‘kasih sayang’, walau pun pada hakikatnya bukan kasih sayang melainkan hari ‘making love’.

Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasana Valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.

Sejarah Valentine

Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah dan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno.

Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.

Katakanlah, “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.

Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.

Valentine Berasal dari Budaya Syirik.

Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.

Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.

Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.

Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.

Semangat valentine adalah Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.

Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?

Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.

Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah sybhanahu wa ta’ala berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Isra’: 32)

Kasih Sayang Menurut Islam

Di dalam Islam tidak ada Valentine, sebab kata Valentine itu merupakan istilah impor dari agama di luar Islam. Bahkan latar belakang sejarah dan esensinya pun tidak sejalan dengan Islam.

Namun kalau yang anda inginkan adalah perwujudan rasa kasih sayang menurut syariah Islam, tentu saja Islam merupakan ‘gudang’ nya kasih sayang. Tidak sebatas pada orang-orang terkasih saja, bahkan kasih sayang kepada semua orang. Bahkan hewan pun termasuk yang mendapatkan kasih sayang.

Cinta kepada Kekasih

Kasih sayang kepada orang terkasih pun ada di dalam Islam, bahkan menyayangi pasangan kita dinilai sebagai ibadah. Ketika seorang wanita memberikan seluruh cintanya kepada laki-laki yang dicintainya, maka Allah pun mencurahkan kasih sayang-Nya kepada wanita itu. Hal yang sama berlaku sebaliknya.

Namun kasih sayang antara dua insan di dalam Islam hanya terjadi dan dibenarkan dalam ikatan yang kuat. Di mana laki-laki telah berjanji di depan 2 orang saksi. Janji itu bukan diucapkan kepada si wanita semata, melainkan juga kepada orang yang palingbertanggung-jawab atas diri wanita itu, yaitu sang ayah. Ikatan ini telah menjadikan pasangan laki dan wanita ini sebagai sebuah keluarga. Sebuah ikatan suami istri.

Adapun bila belum ada ikatan, maka akan sia-sia sajalah curahan rasa kasih sayang itu. Sebab salah satu pihak atau malah dua-duanya sangat punya kemungkinan besar untuk mengkhianati cinta mereka. Pasangan mesra di luar nikah tidak lain hanyalah cinta sesaat, bahkan bukan cinta melainkan birahi dan libido semata, namun berkedok kata cinta.

Dan Islam tidak kenal cinta di luar nikah, karena esensinya hanya cinta palsu, cinta yang tidak terkait dengan konsekuensi dan tanggung-jawab, cinta murahan dan -sejujurnya- tidak berhak menyandang kata cinta.

Cinta kepada Sesama

Di luar cinta kepada pasangan hidup, sesungguhnya masih banyak bentuk kasih sayang Islam kepada sesama manusia. Antara lain bahwa Islam melarang manusia saling berbunuhan, menyakiti orang lain, bergunjing, mengadu domba atau pun sekedar mengambil harta orang lain dengan cara yang batil.

Bandingkan dengan peradaban barat yang sampai hari duduk di kursi terdepat sebagai jagal yang telah membunuh berjuta nyawa manusia. Bukankah suku Indian di benua Amerika nyaris punah ditembaki hidup-hidup? Bukankah suku Aborigin di benua Australia pun sama nasibnya?

Membunuh satu nyawa di dalam Islam sama saja membunuh semua manusia. Bandingkan dengan jutaan nyawa melayang akibat perang dunia I dan II. Silahkan hitung sendiri berapa nyawa manusia melayang begitu saja akibat ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki?

Silahkan buka lembaran sejarah, siapakah yang dengan bangga bercerita kepada anak cucunya bahwa nenek moyang mereka berhasil membanjiri masjid Al Aqsha dengan genangan darah muslimin, sehingga banjir darah di masjid itu sebatas lutut kuda?

Di awal tahun 90-an, kita masih ingat bagaimana Serbia telah menyembelih umat Islam di Bosnia, anak-anak mati ditembaki. Bahkan janin bayi di dalam perut ibunya dikeluarkan dengan paksa dan dijadikan bola tendang. Bayangkan, kebiadaban apa lagi yang bisa menandinginya?

Sesungguhnya peradaban barat itu bertqanggung jawab atas semua ini. Tangan mereka kotor dengan darah manusia, korban nafsu angkara murka.

Kasih sayang yang sesungguhnya hanya ada di dalam Islam. Sebuah agama yang terbukti secara pasti telah berhasil menjamin keamanan Palestina selama 14 abad lamanya. Di mana tiga agama besar dunia bisa hidup akur, rukun dan damai. Palestina baru kembali ke pergolakannya justru setelah kaum yahudi menjajahnya di tahun 1948.

Bahkan gereja Eropa di masa kegelapan (Dark Ages) pun tidak bisa melepaskan diri dari cipratan darah manusia, ketika mereka mengeksekusi para ilmuwan yang dianggap menentang doktrin gereja. Tanyakan kepadaGalileo Galilei, juga kepada Copernicus, apa yang dilakukan geraja kepada mereka? Apa yang menyebabkan kematian mereka? Atas dosa apa keduanya harus dieksekusi? Keduanya mati lantaran mengungkapkan kebenaran ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu pengetahuandianggap tidak sesuai dengan kebohongan gereja.

Kalau kepada ilmuwan gereja merasa berhak untuk membunuhnya, apatah lagi dengan orang kebanyakan. Lihatlah bagaimana pemuda Eropa dikerahkan untuk sebuah perang sia-sia ke negeri Islam, perang salib. Lihatlah bagaimana nyawa para pemuda itu mati konyol, karena dibohongi untuk mendapatkan surat pengampunan dosa, bila mau merebut Al Aqsha.

Sejarah kedua agama itu, berikut sejarah Eropa di masa lalu kelam dan bau anyir darah. Sejarah hitam nan legam…

Bandingkan dengan sejarah Islam, di mana anak-anak bermain dengan bebas di taman-taman kota, meski orang tua mereka lain agama. Bandingkan dengan sejarah perluasan masjid di Mesir yang tidak berdaya lantaran tetangga masjid yang bukan muslim keberatan tanahnya digusur. Bandingkan dengan pengembalian uang jizyah kepada pemeluk agama Nasrani oleh panglima Abu Ubaidah Ibnul Jarah, lantaran merasa tidak sanggup menjamin keamanan negeri.

Siapakah yang menampung pengungsi Yahudi ketika diusir dari Spanyol oleh rejim Kristen? Tidak ada satu pun negara yang mau menampung pelarian Yahudi saat itu, kecuali khilafah Turki Utsmani. Sebab meski tidak seagama, Islam selalu memandang pemeluk agama lain sebagai manusia juga. Mereka harus dilindungi, diberi hak-haknya, diberi makan, pakaian dan tempat tinggal layak. Syaratnya hanya satu, jangan perangi umat Islam. Dan itu adalah syarat yang teramat mudah.

Maka kalau kita bicara cinta dan kasih sayang, Islam lah bukti nyatanya.
PENGERTIAN, DASAR, DAN TUJUAN AQIDAH ISLAM
1. Pengertian Aqidah Islam
Menurut bahsa, kata aqidah berasal dari bahasa arab, yaitu : aqada, ya’qidu, aqdan. Yang artinya mengikat atau mengadakan perjanjian. Para ulama memberi pengertian aqidah sebagai berikut : “Sesuatu yang terikat kepadanya hati dan hati Nurani”.
Di dalam Al-Qur’an kata “aqad” sering diisebutkan antara lain dalam surat Al-Maidah ayat 1 :

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah aqad-aqad itu”. (QS. Al-Maidah : 1)
Adapun yang dimaksud aqad disini adalah janji, baik janji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maupun janji kepada sesama manusia.
Menurut istilah, aqidah adalah suatu pokok atau dasar keyakinan yang harus dipegang oleh orang yang mempercayainya.
Berdasarkan pengertian aqidah di atas, maka yang dimaksud Aqidah Islam adalah pokok-pokok kepercayaan yang harus diyakini kebenarannya oleh setiap muslim, berdasarkan dalil-dalil naqli dan aqli.
2. Dasar-Dasar Aqidah Islam
Sebenarnya dasar-dasar aqidah Islam tidak lain adalah dasar dari ajaran Islam itu sendiri yaitu : Al-Qur’an dan Al-Hadits (Sunah Rasul). Aqidah Islam disusun atas dasar dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits. Di dalam Al-Qur’an banyak disebut pokok-pokok aqidah, seperti : nama-nama, sifat-siftat Allah SWT, tentang malaikat, kitab-kitab Allah, hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
Mengenai pokok-pokok atau kandungan aqidah Islam, antara lain disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 285 sebagai berikut :


“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkannya (Al-Qur;an) dari TuhanNya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua berima kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya. (Mereka berkata), ”Kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari rasul-rasulNya”. Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat”. Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kkepada Mu tempat (kami) kembali”. (QS. Al-Baqarah : 285)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan :


“Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan para rasul-rasulNya, hari akhir dan hendaklah engkau beriman akan qadar ketentuan baik dan buruk”. (HR. Muslim)
Al-Qur’an dan Hadits merupakan dasar aqidah Islam dan pegangan dan pedoman bagi kaum muslimin. Selama kaum muslimin masih berpegang kepada pedoman tersebut, maka dijamin selamat dari kesesatan. Sabda Rasulullah SAW :


“Telah kutinggalkan kepadamu dua pedoman, jika kamu tetap berpegang teguh kepada keduanya, kamu takkan tersesat selama-lamanya, yakni Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasulullah”.
3. Tujuan Aqidah Islam
Aqidah Islam harus menjadi pedoman bagi setiap muslim. Artinya, setiap umat Islam harus meyakini pokok-pokok kandungan aqidah Islam tersebut. Adapun tujuan aqidah Islam itu adalah :
a. Memupuk Dan Mengembangkan Dasar Ketuhanan Yang Ada Sejak Lahir.
Manusia adalah makhluk yang berketuhanan. Sejak dilahirkan manusia cenderung mengakui adanya Tuhan. Firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 172-173 yang artinya sebagai berikut :
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), ”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”, atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka”. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan-perbuatan orang (dahulu) yang sesat?”. (QS. Al-A’raf : 172-173).
Dengan naluri berketuhanan, manusia berusaha untuk mencari Tuhannya. Kemampuan akal dan ilmu yang berbeda-beda memungkinkan manusia akan keliru mengenal Tuhan. Dengan Aqidah Islam, naluri atau kecenderungan manusia akan keyakinan adanya Tuhan yang maha Kuasa dapat berkembang dengan benar.
b. Memelihara Manusia dari Kemusyrikan
Untuk mencegah manusia dari kemusyrikan perlu adanya tuntunan yang jelas tentang kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Kemungkinan manusia terperosok ke dalam kemusyrikan selalu terbuka, baik syirik jaly (terang-terangan) berupa perbuatan, maupun syiirik khafy (tersembunyi) di dalam hati. Dengan mempelajari aqidah Islam manusia akan terpelihara dari perbuatan Syirik.
c. Menghidarkan Diri Dari Pengaruh Akal Pikiran Yang Menyesatkan
Manusia diberi kelebihan oleh Allah SWT dari makhluk lainnya berupa akal pikiran. Pendapat-pendapat atau faham-faham yang semata-mata didasarkan atas akal manusia, kadang-kadang menyesatkan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, akal pikiran perlu dibimbing oleh aqidah Islam agar manusia terbebas atau terhindar dari kehidupan yang sesat.

1. Wujud ( وجود )
Wujud artinya ada. Maksudnya bahwa adanya Allah itu bukan karena ada yang menciptakan, tetapi ada dengan sendirinya. Jadi wujud Allah itu wajib dan kita wajib meyakininya.
Pada hakikatnya keyakinan terhadap adanya Allah bagi manusia sudah terjadi ketika manusia itu dilahirkan. Karena secara naluriah sejak dilahirkan, manusia membutuhkan perlindungan dan pertolongan yang sifatnya mutlak. Kecenderungan mencari perlindungan ini disebut Religious Instinct atau insting keagamaan.
Kepada siapa manusia mencari perlindungan? Tentu saja kepada yang mengatur jagat raya ini. Dzat yang mengatur jagat raya ini sudah pasti di atas segalanya. Akal sehat tidak akan menerima jika alam semesta ini di atur oleh Dzat yang sama dengan dzat yang diatur. Tidak mungkin sebuah kursi diciptakan atau dibuat oleh zat yang bentuknya sama seperti kursi juga. Alam semesta ini diciptakan oleh Dzat Yang Maha Sempurna itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dzat Allah adalah sesuatu yang ghaib. Akal manusia tidak akan mampu memikirkan Dzat Allah. Oleh sebab itu, mengenai adanya Allah kita harus puas dengan apa yang dijelaskan Allah melalui firman-firmanNya dan bukti-bukti berupa adanya alam semesta ini. Ketika Rasulullah mendapatkan kabar tentang adanya sekelompok orang yang berusaha memikirkan dan mencari hakikat dari Dzat Allah, maka beliau melarang melakukan hal tersebut.
Sabda Rasulullah :

“Pikirkanlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamuu memikirkan (hakikat) Dzat Allah, karena sesungguhnya kamu tidak akan mampu melaukakannya”. (HR. Abu As-Syaihk).
Walaupun akal manusia tidak dapat memikirkan Dzat Allah, tetapi adanya Allah sudah sangat jelas untuk diyakini. Kita meyakini adanya Allah, karena banyak bukti yang dapat kita lihat.
Bukti-Bukti Adanya Allah SWT :
a) Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Yang Ber-Tuhan
Pada hakikatnya manusia membutuhkan Dzat Maha Kuasa tempat berlindung. Semua agama atau kepercayaan pada dasarnya mengakui adanya Tuhan. Bahkan orang yang mengaku dirinya atheis (tidak bertuhan) sebenarnya langsung tidak langsung mengakui suatu kekuatan di luar ala mini, yaitu Dzat Yang Maha Kuasa.
Firman Allah dalam surah Yunus ayat 12, yang artinya adalah sebagai berikut : “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan”. (QS. Yunus : 12)
Tidak jarang pada saat menghadapi bahaya, orang yang tidak percaya adanya Tuhan secara spontan menyebut nama Tuhan. Itulah fitrah manusia yang cenderung membutuhkann perlindungan Allah.
Fir’aun raja yang sombong, raja yang mengakui dirinya Tuhan, ketika hampir mati tenggelam di laut merah ia pun mengakui adanya Allah Yang Maha Kuasa. Kejadian ini disebutkan di dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 90 yang artinya sebagai berikut : “Dan kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata ”Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan ikut termasuk orang-orang muslim (berserah diri)”. (QS. Yunus : 90)
b) Kejadian Alam Semesta

Akan yang sehat tentu menyadari bahwa adanya sesuatu tentu ada yang mengadakannya. Misalnya, adanya makanan di meja tentu ada yang menghidangkannya. Demikian pula halnya dengan alam semesta ini beserta isinya, pasti ada yang menciptakannya. Pencipta jagad raya ini pasti Dzat Yang Maha Pencipta.
Dalam surat Ibrahim ayat 32 Allah berfirman :

“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi, dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu”. (QS. Ibrahim : 32)
c) Adanya Nabi dan Rasul

Nabi dan Rasul adalah manusia pilihan yang diutus oleh Allah kepada Umatnya. Adanya Nabi dan Rasul berarti ada yang mengutusnya. Yang mengutus Nabi dan Rasul adalah Allah SWT.
Hal ini wajib diyakini karena sejak Nabi Adam as, sampai dengan Nabi Muhammad saw. Para rasul tersebut menyampaikan ajaran pokok yang sama, yaitu keimanan kepada Allah, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Bijaksana.
Firman Allah SWT :

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan ), Sembahlah Allah, dan jauhilah Taghut”. (QS. An-Nahl : 36)
d) Kejadian Manusia

Lewat kejadian manusia terbukti bahwa manusia diciptakan oleh Dzat Yang Maha Kuasa. Tidak mungkin manusia itu ada dengan sendirinya. Tidak mungkin pula manusia diciptakan oleh makhluk biasa, bahkan makhluk yang luar biasa sekalipun.
Menurut kejadiannya, manusia dijadikan dari bahan yang sederhana dan rendah nilainya, yaitu unsur tanah. Namun, kemudian ternyata manusia menjadi makhluk yang terbaik diantara seluruh makhluk.
Allah telah berfirman yang artinya sebagai berikut :

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian, kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik”. (QS. Al-Mu’minun : 12-14).
Manusia memiliki kelebihan dari segi bentuk jasmani dan rohaninya. Manusia memiliki akal yang dapat membedakan baik dan buruk, dapat memanfaatkan alam lingkungan untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Satu hal yang membuktikan manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT adalah adanya keunikan pada setiap manusia. Sejak manusia pertama diciptakan sampai sekarang sudah miliaran jumlahnya. Namun dari jumlah yang sangat besar itu, tidak ada seorangpun yang memiliki kesamaan dengan seorang manusia lainnya. Bahkan anak kembar sekalipun tidak seutuhnya persis sama. Hal ini membuktikan bahwa kejadian manusia diatur, diarahkan oleh kekuatan yang Maha Tinggi, Maha Pengatur, dan Maha Bijaksana, yaitu Allah SWT.
e) Kitab Suci Al-Qur’an

Jika dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain, apalagi dengan buku biasa, Al-Qur’an banyak memiliki keistimewaan. Al-Qur’an diturunkan di saat sastra, khususnya bidang syair sedang berkembang dengann pesat dan banyak melahirkan penyair ternama. Dengan datangnya Al-Qur’an mereka merasa tersaingi, karena nilai sastra Al-Qur’an yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, mereka tidak mau mengakui Al-Qur’an sebagai firman Allah. Mereka menuduh bahwa Muhammad lah yang membuat Al-Qur’an itu dan meniru-niru syair mereka. Untuk membantah tuduhan mereka, Allah menurunkan ayat berikut ini :

“Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. (QS. Al-Baqarah : 23)
Al-Qur’an adalah kalamullah. Ayat-ayat Al-Qur’an berupa kalimat atau perkataan. Mungkinkah ada pperkataan tanpa ada yang berkata-kata. Jadi adanya Al-Qur’an merupakan bukti adanya Allah SWT.
2. Qidam (قدم )
Qidam artinya dahulu. Maksudnya bahwa Allah itu terdahulu dan tidak didahulukan oleh sesuatu.
Jangkauan akal manusia terbatas. Manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti kapan alam semesta ini diciptakan. Dari bahan apa dan bagaimana proses penciptaannya. Yang pasti bahwa alam semesta ini ada yang menciptakannya itu sudah ada sebelum alam ini ada. Dialah Allah Dzat yang tidak ada permulaan.
Jika Allah ada permulaannya berarti Allah ada yang menciptakannya, berarti Allah itu (Huduts) atau baru, sama dengan makhluk lainnya. Hal ini tidak mungkin. Fiirman Allah dalam surah Al-Hadid ayat 3 :

“Dialah Yang Awal, dan Yang Akhir”. (QS. Al-Hadid : 3)
3. Baqo' (ءبقا )
Baqa’ artinya kekal. Jika diperhatikan makhluk semuanya berproses menuju kehancuran atau kebinasaan. Misalnya, tumbuhan berasal dari biji-bijian, tumbuh kecil, kemudian menjadi besar dan tua, akhirnya mati dan lapuk kemudian hilang menyatu dengan tanah. Hal yang demikian itu merupakan sunnatullah atau hukum alam.
Jadi semua makhluk berubah-rubah, berproses menuju kehancuran. Sedangkan Allah sebagai pencipta makhluk bersifat kekal, tidak berubah-rubah. Sebagaimana firman Allah SWT :

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah” (QS. Al-Qasas : 88)
4. Mukholafatu lil hawaditsi (للحوادث مخالفة)
Mukholafatu lil hawaditsi artinya berbeda dengan semua makhluk. Banyak sudah hasil karya yang diciptakan oleh manusia. Mulai dari barang-barang yang sederhana sampai kepada barang-barang yang rumit dan canggih. Semua hasil karya manusia itu tidak ada yang sama dengan pembuatnya yakni manusia.
Dari contoh di atas, akal sehat kita tentu meyakini bahwa tidak mungkin Allah Yang Maha Pencipta sama dengan makhluk ciptaanNya, baik Dzatnya maupun sifat-sifatnya.
Firman Allah SWT :

“Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia”. (QS. Asy-Syura : 11)
Hidup Allah tidak sama dengan hidupnya makhluk yang di dahului dari tidak ada, kemudian ada, dan akhirnya binasa. Allah tanpa awak dan tanpa akhir. Sifat melihat Allah tidak sama dengan cara melihat manusia. Allah melihat tanpa alat, penglihatanNya tanpa batas. Manusia melihat dengan mata, jika syaraf mata rusak maka manusia tidak dapat melihat lagi.
5. Qiyamuhu bi nafsihi (قيامه بنفسه )
Qiyamuhu bi nafsihi artinya berdiri sendiri. Maksudnya bahwa Allah tidak membutuhkan bantuan apa pun dari siapapun. Sebagaimana firmanNya dalam surat Fatir ayat 15 sebagai berikut :

“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah, dan Allah Dia lah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji”. (QS. Fatir : 15)
Makhluk untuk melangsungkan hidupnya tergantung kepada makhluk-makhluk yang lain. Apalagi manusia adalah makhluk yang paling banyak ketergantungannya agar dapat hidup layak sebagai manusia.
6. Wahdaniyah (وحدنية )
Wahdaniyah artinya Maha Esa. Tidak mungkin ada dua Tuhan. Sebab jika ada dua Tuhan, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika Tuhan yang satu dengan Tuhan yang lainnya berbeda pendapat. Misalnya Tuhan yang satu sudah menciptakan Bumi berbentuk bulat akan tetapi Tuhan yang lain menginginkan bumi ini segi empat. Tentu akan menjadi malapetaka dahsyat di jagat raya ini.
Allah berfirman :

“Seandainya pada keduanya (di langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa”. (QS. Al-Anbiya : 22)
Orang yang berakal sehat tentu akan menerima bahwa Allah itu hanya satu, Maha Esa baik sifat-sifatNya, ataupun perbuatanNya. Dalam surat An-Nahl ayat 51, Allah berfirman yang artinya :
“Dan Allah berfirman : “Janganlah kamu menyembah dua Tuhan, hanyalah Dia tuhan yang Maha Esa. Maka hendaklah kepada Ku saja kamu takut”. (QS. An-Nahl : 51)
7. Qudrot (قدرة )
Qudrat artinya kuasa. Banyak sekali tentang kekuasaan Allah antara lain adanya jagat raya yang terdiri dari berjuta bintang dan planet-planet yang selalu bergerak tanpa terjadi tabrakan. Contoh di atas merupakan bukti Maha Kuasanya Allah. Sebab tidak mungkin peristiwa yang sangat rumit di kendalikan oleh Zat yang memiliki kelemahan.
Firman Allah :

“Dan Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu”. (QS. Al-Ahzab : 27)

“Milik Allah lah kerjaan langit dan bumi bdan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Maidah : 120)
8. Irodat (ارادة)
Iradat artinya berkehendak. Allah wajib bersifat berkehendak, bebas menetukan kehendak atau kemauanNya tanpa ada apa dan siapa pun yang dapat memerintah atau melarangNya. Segala sesuatu yang diciptakan Allah adalah atas kehendak Nya, bukan karena terpaksa atau tidak sengaja.
Dalam Al-Qur’an diterangkan :

“Maha Kuasa berbuat apa yang dia kehendaki”. (QS. Al-Buruj : 16)
Dalam Surat Yasin ayat 82, disebutkan :

“Sesungguhnya urusanNya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu”. (QS. Yasin : 82)
9. 'Ilmu (علم )
‘Ilmu artinya mengetahui. Orang yang membuat pesawat terbang tentu memiliki ilmu yang tinggi tentang teknologi pesawat terbang. Orang tersebut tentu telah belajar dalam waktu yang lama untuk memiliki pengetahuan tersebut. Bagi Allah, untuk mennciptakan sesuatu tidak perlu belajar. Allah telah memiliki ilmu yang Maha Lengkap. Ilmu adalah bersifat menyeluruh, Maha Luas dan Mendalam. Segala sesuatu baik yang lahir ataupun yang ghaib tak lepas dari pengetahuanNya.
Firman Allah SWT :

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Mujadilah : 7)
10. Hayat (حياة )
Hayat artinya hidup. Hidupnya Allah tidak sama dengan hidupnya manusia atau binatang. Manusia memerlukan jantung yang berdenyut, darah yang mengalir, tulang, urat, daging, dan sebagainya untuk hidup. Allah hidup tidak memerlukan sesuatu. Allah Maha Hidup. Dia hidup sebagaimana dia ada tanpa didahului oleh tidak ada atau tidak hidup. Dan hidupnya Allah tanpa berkesudahan.
Firman Allah :

“Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup., yang terus menerus mengurus (makhlukNya), tidak mengantuk dan tidak tidur. MilikNya apa yang di langit dan di bumi”. (QS. Al-Baqarah : 225)
11. Sama' (سمع )
Sama’ artinya mendengar. Semua suara baik yang nyaring, samar, bahkan yang tidak terdengar sama sekali oleh manusia pasti di dengar Allah. Allah mendengar tidak memerlukan alat pendengar seperti manusia atau makhluknya.
Firman Allah :

“Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang-orang yang didzalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. (QS, An-Nisa’ : 148)
12. Bashor (بصر )
Basar artinya melihat. Allah melihat segala sesuatu baik yang besar maupun yang kecil, bahkan yang tersembunyi tanpa bantuan alat untuk melihat. PenglihatanNya tanpa ada batasnya. Teknologi manusiapun yang tercanggih tidak mungkin dapat mengimbangi penglihatan Allah.
Allah berfirman :

“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Melihat”. (QS. Al-Isra’ : 1)
13. Kalam (كلام )
Kalam artinya berkata-kata atau berfirman. Bahasa merupakan alat perhubungan yang sangat penting bagi makhluk. Untuk berkomunikasi menyampaikan maksud dan perasaan tertentu. Semutpun dapat bercakap-cakap dengan nabi Sulaiman. Mustahil jika Allah tak dapat berkata-kata. Tentu saja cara berkata-kata Allah tidak sama dengan manusia. Dengan sifat ini Allah berkomunikasi dengan hamba yang dikehendakiNya. Allah berkomunikasi dengan bahasaNya yang disebut kalamullah.
Dalam surat An-Nisa ayat 164 disebutkan :

“Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung ….”
Adanya kitab suci Al-Qur’an merupakan bukti, bahwa Allah memiliki sifat Kalama tau berkata-kata.
14. Qodiron (قادرا )
Qadiran artinya maha kuasa. Sesungguhya Allah Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
15. Muridan (كونه)
Muridan artinya Maha Berkehendak. Sesungguhya Allah Zat Yang Maha Berkehandak atas segala sesuatu.
16. 'Aliman (كونه)
‘Aliman artinya Maha Mengetahui. Sesungguhya Allah Zat Yang Maha Maha Mengetahui atas segala sesuatu.
17. Hayan (حيّا) Hidup
Hayan artinya Maha Hidup. Sesungguhya Allah Zat Yang Maha Hidup, hidup selamanya dan tidak akan mati.
18. Sami'an (سميعا)
Sami’an artinya Maha Mendengar. Sesungguhya Allah Zat Yang Maha Mendengar atas segala sesuatu.
19. Bashiron (بصيرا )
Basiron artinya Maha Melihat. Sesungguhya Allah Zat Yang Maha Melihat atas segala sesuatu.
20. Mutakaliman (اكلمتم )
Mutakalliman artinya Maha Berfirman. Sesungguhya Allah Zat Yang Maha Berfirman atau Maha Berkata-kata.
PUASA
I Definisi Puasa
Menurut bahasa puasa adalah menahan, menurut syariat islam puasa berarti menahan diri dari makan, minum berhubungan badan, serta seluruh macam sahwat dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.
II Kewajiban Puasa Romadhon
Menurut Al-Qur’an, Al-Hadis dan Ijma puasa pada bulan romadhon merupakan amal ibadah yang di wajibkan bagi setiap muslim yang berakal sehat dan telah mencapai usia baligh. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqoroh: 183-185Ikhwah fillah Rahimakumullah, Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"[2:183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
Kalau mendengar atau membaca ayat diatas, kita jadi ingat dengan satu bulan yang spesial, bulan yang utama, yakni bulan Ramadhan. Yah, dan sebentar lagi, insya Allah akan berjumpa kembali dengan bulan yang mulia itu. Namun, kita kadang hanya ingat ayat tersebut sebagai ayat yang berkenaan dengan bulan Ramadhan, tanpa mengetahui makna, rahasia dan kekuatan dari ayat tersebut yang bisa membuat kita bersemangat dalam menjalankan ibadah shaum dibulan Ramadhan.
Dikutip dari seorang Doktor dibidang tafsir, Ustad Sami'un Jazuli, inti dari 5 kekuatan surat Al Baqarah ayat 183,
1. Iman,
Percaya yaitu Kemudian membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dalam perbuatan. itulah Iman. secara bahasa percaya atau yakin. Percaya kepada 6 rukun iman, yaitu kepada Allah, malaikat, rasulNya, kitabNya, Hari akhir, Qadha dan Qadar.
Orang beriman adalah mereka yang
A percaya kepada Allah. konsekuensinya adalah mengerjakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. mereka juga yang percaya kepada malaikatNya. Sehingga dalam kesehariannya mereka yang beriman merasa senantiasa diawasi.
B Mereka yang percaya kepada KitabNya. Yang senantiasa membaca dan mentadaburi Al Qur'an dan mengamalkan setiap isinya.
C Mereka yang percaya kepada RasulNya. Yang menjadikan Rasul sebagai teladan, yang mengikuti sunah beliau.
D Mereka yang percaya hari Akhir. Sehingga mereka senantiasa menjaga amalnya, menjaga lisannya dan menjaga hatinya. Karena semua akan dimintai pertanggungjawab di hari akhir.
E Dan terakhir mereka yang yakin dengan qadha dan qadar. yakin dengan takdir dan ketetapan Allah swt.
Allah swt menyediakan dan menyeru kepada mereka untuk berpuasa dibulan Ramadhan. Maka berbahagialah mereka yang beriman dan yang senantiasa menyempurnakan keimanannya, karena mereka adalah orang2 spesial yang diseru oleh Allah.
2. Karakter,
Ada pertanyaan menarik, kenapa Allah menyebutkan kalimat wajib dengan "kutiba"? Padahal, dalam bahasa arab bisa juga dengan kata wajib langsung, bukan dengan kutiba. Bahkan kutiba dalam bahasa Arab artinya menulis/ dituliskan?
Inilah keagungan Allah swt, bukti keindahan Al Qur'an. Dalam Bahasa Arab, kutiba artinya dituliskan. Dalam kesehariannya, sering digunakan ketika seseorang menulis diatas sebuah batu yang tulisan tersebut bertahan sangat lama dan bahkan mungkin tidak bisa dihapus. Inilah rahasia kenapa Allah menggunakan kata Kutiba, karena Allah ingin menjadikan Ramadhan sebagai karakter kuat yang dituliskan kedalam dada manusia yang beriman. SUBHANALLAH.
Maka berbahagialah mereka yang beriman, karena begitu spesialnya Allah memperlakukan mereka dengan Ramadhan ini.
3. Shiyam/ Shaum
Secara bahasa artinya menahan (Imsak). menahan diri dari yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari, tidak hanya menahan dari yang membatalkan, akan tetapi juga menahan dari yang mengurangi nilai atau pahala puasa.
4. Umat terdahulu,
Shaum bukan hanya dimiliki atau dilakukan oleh umat nabi Muhammad saja, akan tetapi umat-umat terdahulu. Artinya, kita adalah bagian dari rombongan umat itu. Ya. Rombongan umat yang taat dan beriman kepada Allah sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, kita ikut bersama mereka dalam berpuasa, ikut menjadi bagian dari manusia-manusia terbaik dimuka bumi ini. Berbahagialah kita, karena Allah mengumpakan kita dengan umat2 terdahulu dalam berpuasa.
5. Taqwa.
Kekuatan yang kelima dan juga yang menjadi tujuan utama dalam perintah Allah Surat Al Baqarah ayat 183 adalah Takwa. Predikat yang hanya diberikan kepada orang-orang yang spesial yang bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan optimal dan maksimal, yang menahan diri mereka dari yang mengurangi pahala puasa, yang mengharap ridho dan balasan dari Allah swt, yang takut terhadap dosa dan hukuman dari Allah swt.
III Keutamaan Puasa

Mari kita berusaha dengan optimal, memanfaatkan bulan yang Allah sediakan bagi mereka yang beriman. Berjuang untuk mendapatkan pahala berlimpah dengan maksimal. Berjuangan untuk mendapatkan ampunan Allah swt, berjuangan menghimpun semua amal kebaiakn dibulan yang mulia ini.
kelima kekuatan tadi semoga bisa menjadi pemicu bagi kita, penyemangat yang membakar motor keimanan kita.
Semoga Kita dipertemukan dengan Ramadhan dalam keadaan yang sehat jasmani dan ruhani dan penuh dengan bahan bakar keuatan iman.
Wallahu'alam





Salat (Bahasa Arab: صلاة; transliterasi: Shalat), merujuk kepada ritual ibadah pemeluk agama Islam. Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad, sebagai figur pengejawantah perintah Allah.[1] Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan salat, karena menurut Surah Al-'Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar:
“ ...dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). (Al-Ankabut: 45) ”
Secara bahasa salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, doa. Sedangkan, menurut istilah, salat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.
Dalam banyak hadis, Nabi Muhammad SAW telah memberikan peringatan keras kepada orang yang suka meninggalkan salat wajib, mereka akan dihukumi menjadi kafir dan mereka yang meninggalkan salat maka pada hari kiamat akan disandingkan bersama dengan orang-orang, seperti Qarun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.

Hukum salat dapat dikategorisasikan sebagai berikut :

Fardu, Salat fardhu ialah salat yang diwajibkan untuk mengerjakannya. Salat Fardhu terbagi lagi menjadi dua, yaitu :
Fardu Ain: ialah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf langsung berkaitan dengan dirinya dan tidak boleh ditinggalkan ataupun dilaksanakan oleh orang lain, seperti salat lima waktu, dan salat Jumat (fardhu 'ain untuk pria).
Fardu Kifayah: ialah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf tidak langsung berkaitan dengan dirinya. Kewajiban itu menjadi sunnah setelah ada sebagian orang yang mengerjakannya. Akan tetapi bila tidak ada orang yang mengerjakannya maka kita wajib mengerjakannya dan menjadi berdosa bila tidak dikerjakan. Seperti salat jenazah.
Salat sunah (salat Nafilah) adalah salat-salat yang dianjurkan atau disunnahkan akan tetapi tidak diwajibkan. Salat nafilah terbagi lagi menjadi dua, yaitu
Nafil Muakkad adalah salat sunah yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti salat dua hari raya, salat sunah witir dan salat sunah thawaf.
Nafil Ghairu Muakkad adalah salat sunah yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti salat sunah Rawatib dan salat sunah yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti salat kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).
Rukun Salat berdasarkan sebuah situs web Muslim.or.id:

Berdiri (bagi yang mampu)
Takbiratul ihram
Membaca surat Al Fatihah pada tiap rakaat
Rukuk dan tuma’ninah
Iktidal setelah rukuk dan tuma'ninah
Sujud dua kali dengan tuma'ninah
Duduk antara dua sujud dengan tuma'ninah
Duduk dan membaca tasyahud akhir
Membaca salawat nabi pada tasyahud akhir
Membaca salam yang pertama
Tertib (melakukan rukun secara berurutan)
Sesorang yang mempunyai sifat rendah hati itu sangat luar biasa,seseorang yang menganggap dirinya belum sempurna itu sifat terpuji namun kenapa dengan mempunyai sifat rendah hati sehingga kamu tertutup dengan seruan Allah yang maha kuasa.. Sesuatu yang datangnya langsung dari Allah SWT tapi kamu tak memahaminya.. Berikut adalah ucapan saudaraku yang penuh dengan kerendahan hatinya : Saudaraku apakah anda muslim ,ucapku berbisik. Iya benar saya muslim,wahai ukhti .ia menjawab.. Lalu kenapa engkau tidak memakai jilbab saudaraku padahal al-Quran memerintahkan untuk engkau wanita muslim diwajibkan menutup aurat dengan berjilbab Lalu ia menjawab,saya tidak ingin di cap jelek oleh orang lain karena berjilbab tetapi saya berakhlak buruk. Saudaraku,saya tegaskan lagi sesungguhnya perintah untuk berjilbab bagi wanita itu datangnya langsung dari ALLAH SWT,dan tercantum dalam kitab suci alquran,
 “Wahai Nabi "katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu, dan wanita-wanita kaum muslim agar mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS.33 : 59)
 Wahai saudaraku, jilbab itu terkait dengan aurat. Sedangkan akhlak buruk itu merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan bukan dengan ‘tidak berjilbab’. Akhlak buruk dapat diberikan solusi tazkiyatun nafs, pembersihan atau penyucian diri. Lalu ia menjawab dengan tenang,wahai saudaraku terimakasih telah mengingatkanku lagi dengan ayat Allah. Insya Allah saya akan segera memakai kerudung wahai saudaraku. Ku tesenyum,saudaraku jilbab dan kerudung adalah dua hal yang berbeda. jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan oleh muslimah ketika keluar rumah. Syaratnya tidak tipis,satu potong,tidak ada lekukan,cukup luas dan lebar.Kerudung atau khimar harus di ulur menutup dada. Wahai muslimah. Sesungguhnya jilbab adalah kebutuhan buat wanita.pakailah jilbab yang rapih artinya jilbab yang panjang tanpa ada lekukan.agar kita terjaga dari dahsyatnya api neraka. Saudaraku.. Wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. Wanita bagaikan batu bata, ia adalah pembangun generasi manusia. Jika kaum wanita baik, maka baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak maka akan rusak pulalah generasi tersebut. Oleh karena itu, Islam meletakkan wanita pada tempatnya, melindungi dan menghargai wanita. Wanita mempunyai nilai dan fungsi yang tinggi dalam pandangan Allah bila mereka konsisten memegang ajaran dan tuntunan Islam. Ayo bangga berjilbab saudaraku Jilbab akan bukanlah ikon akan tetapi sebagai bentuk ibadah dan kewajiban sebagaimana wajibnya mendirikan sholat dan rukun islam lainnya.
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan "nggemesi". Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain
 2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur'an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat
 3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur'an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
 4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur'an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
 5. Cinta ra'fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat,membelanya meskipun salah. Al Qur'an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2)
 6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur'an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
 7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur'an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur'an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma'tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as'aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa'ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
 8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur'an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)