:::: MENU ::::

Informasi Bisnis dan Umum

Tampilkan postingan dengan label Keluarga Samara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga Samara. Tampilkan semua postingan
Sering kita mendengar di kalangan kaum muda yang baru menikah, bahkan seakan menjadi bahan candaan bahwa malam Jum’at selalu di gunakan untuk ber Jima’ (bersetubuh dengan istri). Lantas kapan waktu yang tepat untuk berhubungan intim yang sesuai sunah?
Pertama, ada keadaan dimana seorang suami dianjurkan untuk mendatangi istrinya. Keadaan itu adalah ketika suami tidak sengaja melihat wanita dan dia terpikat dengannya. Anjuran ini berdasarkan hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :
Wanita itu, ketika dilihat seperti setan (punya kekuatan menggoda). Karena itu, jika ada lelaki melihat wanita yang membuatnya terpikat, hendaknya dia segera mendatangi istrinya. Karena apa yang ada pada istrinya juga ada pada wanita itu. (HR. Turmudzi 1158, Ibnu Hibban 5572, ad-Darimi dalam Sunannya 2261, dan yang lainnya. Sanad hadis ini dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).
Dalam riwayat lain di shahih Muslim, dari sahabat Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
”Jika ada lelaki yang terpikat dengan seorang wanita, hingga membuat dia jatuh cinta, hendaknya dia segera mendatangi istrinya dan melakukan hubungan dengannya. Dengan ini akan menghilangkan perasaan cinta dalam hatinya.” (HR. Muslim 1403).
An-Nawawi mengatakan,
Makna hadis, bahwa dianjurkan bagi lelaki yang melihat wanita, kemudian syahwatnya naik, agar dia segera mendatangi istrinya atau budaknya, jika dia punya budak, hingga dia melakukan hubungan badan dengannya. Agar bisa menahan syahwatnya dan jiwanya menjadi tenang, sehingga hatinya bisa kembali konsentrasi dengan tugasnya. (Syarh Shahih Muslim an-Nawawi, 9/178)
Kedua, mengenai waktu khusus yang berisi anjuran untuk melakukan hubungan badan, kami tidak menjumpai adanya dalil yang menjelaskan hal ini. Namun terdapat beberapa riwayat yang menunjukkan bagaimana kebiasaan orang soleh masa silam dalam memilih waktu untuk melakukan hubungan badan.
Berikut diantaranya :
1.   Tiga Waktu Aurat
Yang dimaksud tiga waktu aurat adalah sebelum subuh, siang hari waktu dzuhur, dan setelah isya.
Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu : sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di waktu dzuhur dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga waktu aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. (QS. An-Nur: 58).
Diriwayatkan dari Muqatil bin Hayan, beliau menceritakan sebab turunnya ayat ini, Ada pasangan suami istri di kalangan anshar, yang dia sering membuatkan makanan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika budaknya masuk ke kamar menemui mereka tanpa izin di waktu yang mereka tidak sukai untuk ditemui. Sang istripun melaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Wahai Rasulullah, betapa buruknya sikap orang ini. Dia menemui seorang wanita ketika dia sedang berduaan bersama suaminya dalam satu selimut.” Kemudian Allah menurunkan ayat di atas. (Tafsir Ibn Katsir, 6/83).
Allah menurunkan syariat agar anak yang belum baligh, atau budak yang tinggal bersama tuannya, untuk tidak masuk ke kamar pribadi orang tuanya atau kamar tuannya pada tiga waktu khusus tanpa izin. Tiga waktu itu Allah sebut sebagai waktu aurat, karena umumnya, mereka sedang membuka aurat di tiga waktu itu.
Ibnu Katsir menyebutkan keterangan dari as-Sudi,
”Dulu para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka terbiasa melakukan hubungan badan dengan istri mereka di tiga waktu tersebut. Kemudian mereka mandi dan berangkat shalat. Kemudian Allah perintahkan agar mereka mendidik para budak dan anak yang belum baligh, untuk tidak masuk ke kamar pribadi mereka di tiga waktu tersebut, tanpa izin. (Tafsir Ibn Katsir, 6/83).
2.   Setelah Tahajud
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebiasaan tidur di awal malam, untuk bisa bangun di pertengahan atau sepertiga malam terakhir, melakukan shalat tahajud. Aisyah menceritakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekati istrinya setelah tahajud. Dari al-Aswad bin Yazid, bahwa beliau pernah bertanya kepada A’isyah radhiyallahu ‘anha tentang kebiasaan shalat malamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterangan A’isyah radhiyallahu ‘anhu,
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di awal malam, kemudian bangun tahajud. Jika sudah memasuki waktu sahur, beliau shalat witir. Kemudian kembali ke tempat tidur. Jika beliau ada keinginan, beliau mendatangi istrinya. Apabila beliau mendengar adzan, beliau langsung bangun. Jika dalam kondisi junub, beliau mandi besar. Jika tidak junub, beliau hanya berwudhu kemudian keluar menuju shalat jamaah. (HR. an-Nasai 1680 dan dishahihkan al-Albani)
Berdasarkan keterangan A’isyah di atas, sebagian ulama lebih menganjurkan agar hubungan badan dilakukan di akhir malam, setelah tahajud, dengan pertimbangan,
·         Mendahulukan hak Allah, dengan beribadah kepadanya dalam kondisi masih kuat.
·         Menghindari tidur ketika junub, karena bisa langsung mandi untuk shalat subuh.
·         Di awal malam umumnya pikiran penuh, dan di akhir malam umumnya pikiran dalam keadaan kosong.
Ketika menjelaskan hadis ini, Mula Ali Qori mengutip keterangn Ibnu Hajar yang menjelaskan, “Mengakhirkan hubungan badan hingga akhir malam itu lebih baik. Karena di awal malam terkadang pikiran orang itu penuh. Dan melakukan jima di saat pikiran penuh, bisa jadi membahayakan dengan sepakat para ahli, karena bisa jadi dia tidak bisa mandi, sehingga dia tidur dalam kondisi junub, dan itu hukumnya makruh. (Mirqah al-Mashabih, 4/345).
Semua keterangan di atas hanya menyebutkan kebiasaan mereka. Dan semata tradisi yang terkait adat atau kebutuhan fisik seseorang, tidak bisa dijadikan acuan bahwa itu sunah atau dianjurkan. Karena itu, pertimbangan yang disebutkan oleh Ibnu Hajar hanya pertimbangan terkait dampak baik ketika hubungan badan diakhirkan hingga mendekati sahur. Dengan demikian, kesimpulan yang bisa kita berikan, bahwa dalam masalah ini tidak ada acuan baku, sehingga dikembalikan kepada kebutuhan dan kebiasaan masyarakat.



Sumber : Konsultasi Syariah
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik dari kalian sikapnya kepada keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik dari kalian sikapnya kepada keluarga.” (HR. Ibnu Hibban).
Siapa tidak mendamba pasangan setia dan selalu mesra? Siapa pula tidak jengah hidup dengan pasangan yang durhaka lagi gampang marah? Faktanya, menjadi pasangan setia dan mesra sungguh tidak mudah.
Alangkah baik kita menjadikan rumah tangga Rasulullah sebagai teladan utama. Inilah potret rumah tangga yang diliput berkah dan bertabur cinta. Panutan umat sejagat ini adalah sosok suami yang pandai mengistimewakan istri.
Apa saja yang dilakukan oleh sosok teladan kita sehingga mengklaim adalah suami yang terbaik terhadap istri :
1.  Beliau biasa memanggil Aisyah dengan sebutan Humaira, yang kemerah-merahan pipinya. Kadang juga Aisy, yang dalam budaya Arab, pemenggalan huruf terakhir dari nama itu menunjukan panggilan manja sebagai tanda sayang. Tidak ada wanita yang tidak tersanjung dipanggil demikian oleh suaminya.
2.   Di tengah kesibukan mengurus umat, Rasulullah juga mampu menjaga keintiman bersama istri. Perhatikan penuturan Aisyah berikut. “Aku pernah mandi janabat bersama Rasulullah dengan satu tempat air. Tangan kami bergantian mengambil air.” (HR Bukhari dan Muslim).
3.     Rasulullah juga pernah minum di gelas yang digunakan Aisyah. Beliau pernah makan daging yang sudah digigit Aisyah (HR Muslim).
4.     Kemesraan bahkan tetap dilakukan Rasulullah ketika istri sedang dalam keadaan haid. Simak penuturan Ummu Salamah. “Ketika aku rebahan bersama Rasulullah di lantai, tiba-tiba aku haid. Aku keluar mengambil pakaian haidku. Beliau bertanya, ‘Mengapa kamu, apakah kamu haid?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu memanggilku, dan aku tidur bersama beliau di lantai yang rendah.”
5.     Rasulullah memang begitu memuliakan istri. Boleh jadi sebagian suami lebih nyaman keluar rumah bersama rekan, meninggalkan istri di rumah. Perhatikan sikap Rasulullah, sebagaimana kesaksian Aisyah. “Ketika hendak melakukan sebuah perjalanan, Nabi biasa membuat undian di antara para istri beliau. Siapa yang namanya keluar undian, dialah yang ikut pergi bersama Rasulullah.” (HR Bukhari dan Muslim).
6.     Demikian pula ketika beliau menyaksikan hiburan. Aisyah berkisah, “Pada suatu hari, orang-orang berkulit hitam mempertontonkan permainan perisai dan lembing. Aku tidak ingat apakah aku yang meminta atau Nabi sendiri yang berkata padaku, apakah aku ingin melihatnya. Aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu beliau menyuruhku berdiri di belakang beliau. Pipiku menempel ke pipi beliau. Beliau berkata, ‘Teruskan permainan kalian, Wahai Bani Arfidah (julukan orang Habasyah)!’ Hingga ketika aku merasa bosan, beliau bertanya, ‘Apakah kamu sudah puas?’Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau lalu berkata, ‘Kalau begitu, pergilah!’.” (HR Bukhari dan Muslim).
7.     Itulah sosok suami sejati. Kendati demikian, sebagai manusia normal, tentu saja rumah tangga Rasulullah tidak bebas dari konflik. Perselisihan dalam rumah tangga adalah bumbu cinta. Namun, ketika berselisih, Rasulullah tidak pernah melibatkan emosi. Ketika sedang marah kepada Aisyah, beliau berkata, “Tutuplah matamu!” Kemudian Aisyah menutup matanya dengan perasaan cemas, khawatir dimarahi Rasulullah. Nabi berkata, “Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah kemudian memeluk Aisyah sambil berkata, “Humairahku, telah pergi marahku setelah memelukmu.”
8.    Tidak pernah ada kalimat kasar dan menyakitkan dalam rumah tangga Rasulullah. Bahkan, beliau biasa memijit hidung Aisyah jika dia marah, sambil berkata, “Wahai Aisyah, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan’.” (HR Ibnu Sunni).

9.    Semua kita pasti berharap memiliki rumah tangga yang sakinah dan penuh berkah. Rasulullah telah mengajarkan suami bagaimana memuliakan istri. Seperti sabda beliau, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Lelaki yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan-pesan Al-Quran tentang tujuan hidup yang sebenarnya.
Nasehat ini untuk semuanya, untuk mereka yang sudah memiliki arah, Untuk mereka yang belum memiliki arah, dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
Nasehat ini untuk semuanya, semua yang menginginkan kebaikan.
Saudaraku, Nikah itu ibadah, Nikah itu suci, ingat itu.
Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena kecantikan, bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan, karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan, engkau akan mendapatkan kebahagiaan.
Saudaraku, tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta. Namun jika cinta engkau jadikan sebagai landasan, maka keluargamu
akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah "الله" sebagai landasan, niscaya engkau akan selamat
Tidak saja dunia, tapi juga akherat. Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan, niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.
Saudaraku, jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu"
disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan. Jika ini kau lakukan "istanamu" tidak akan langgeng.
Lihatlah manusia ter-agung Rasulullah Muhammad SAW, tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak mendengar kedatangannya. Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar, menjahit bajunya yang robek.
Saudaraku, jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu", disayang, dimanja dan dilayani suami, terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu. Jika itu engkau lakukan, "istanamu" akan menjadi neraka bagimu
Saudaraku, jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu, jangan engkau terlalu menuruti istrimu. Jika itu engkau lakukan akan celaka.
Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih, tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah. Lihatlah bagaimana Allah menegur "Nabi"-mu tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena menuruti kemauan sang istri.
Tegaslah terhadap istrimu, dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada الله
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya. Lihatlah bagaimana istri Nabi Nuh dan Nabi Luth, dibawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang. Istrimu bisa menjadi musuhmu.
Didiklah istrimu, jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Nabi Ibrahim. Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya. Jadikan dia sebagai Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Nabi Muhammad SAW menerima tugas risalah.
Istrimu adalah tanggung jawabmu, jangan kau larang mereka taat kepada الله
Biarkan mereka menjadi wanita shalihah, biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam. Jangan kau belenggu mereka dengan egomu.
Saudaraku, jika engkau menjadi istri jangan engkau paksa suamimu menurutimu. Jangan engkau paksa suamimu melanggar الله
Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami,
siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya, siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa mendampingi suami menjalankan missi.
Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu, jangan kau usik suamimu dengan tangismu, jika itu kau lakukan, kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka.
Saudarau, jika engku menjadi Bapak.
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim, jadilah bapak yang tegas seperti Nabi Ibrahim, jadilah bapak yang kasih seperti Nabi Muhammad SAW, ajaklah anak-anakmu mengenal الله, ajaklah mereka taat kepada الله, jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti, jadikan dia sebagai Ismail yang taat, jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.
Mohonlah kepada الله, mintalah kepadaNya agar mereka menjadi anak yang shalih shalihah. Anak yang bisa membawa kebahagiaan.
Saudaraku, jika engkau menjadi ibu. Jadilah engkau ibu yang bijak, ibu yang teduh, bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu, jadikanlah mereka mujahid, pecinta al-Quran dan sunnah, jadikanlah mereka tentara-tentara الله
Jangan biarkan mereka bermanja-manja, jangan biarkan mereka bermalas-malasan, siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih shalihah. Hamba yang siap menegakkan Risalah Islam Rahmatan Lil 'alamin.



‘Rumahku Surgaku’. Mungkin sudah seringkali kita mendengar kata ini. Semua orang tentu menginginkan dapat memasuki surga dengan berbagai kenikmatan. Namun, sudahkah rumah kita menjadi surga bagi kita, yang akan mengantarkan kita kepada surga sesungguhnya?
Rumah adalah tempat kita menjalani berbagai aktifitas. Tempat keluarga berkumpul, beristirahat, menghabiskan waktu bersama. Entah berapa banyak kenangan yang terukir dalam sebuah rumah. Maka, ciptakanlah kenangan yang baik, penuh kebahagiaan dan keberkahan.
Untuk menggapai keberkahan dalam sebuah rumah, tentunya kita harus menciptakan kondisi yang membuat rumah memiliki suasana keIslaman yang kuat, dan kuncinya ada pada penghuninya. Penghuni rumahlah yang akan menentukan apakah berkah Allah akan turun pada rumah tersebut atau tidak.
Berikut hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengundang berkah Allah dalam rumah kita :
1.  Biasakanlah menebar salam di antara penghuni rumah. Jika perlu, tempel stiker bertuliskan ucapan salam agar mengingatkan anggota keluarga atau tamu yang akan berkunjung. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)
2. Hiasilah rumah dengan lantunan indah ayat suci Al-Qur’an. Biasakanlah memperdengarkan Al-Quran setiap harinya baik dari anggota keluarga yang membacanya ataupun melalui rekaman murotal dengan suara Qari’ yang indah. Bacaan Al-Qur’an adalah juga bentuk dzikir untuk mengingat Allah yang akan menghadirkan ketenteraman. Allah ta’ala berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.  Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar Ra’du: 28)
3.     Buatlah kajian Islam keluarga minimal seminggu sekali untuk membahas ajaran Islam baik seputar aqidah, syari’ah, dakwah atau materi lainnya agar membiasakan keluarga menuntut ilmu. Selain itu, ini juga bisa mempererat hubungan anggota keluarga yang satu dengan lainnya.
4.   Bagi ayah, jadilah sebaik-baik pemimpin dalam keluarga. Carilah rezeki yang berkah untuk memberikan nafkah kepada keluarga. Jadilah teladan yang baik bagi anak-anak dan istrinya.
5.  Bagi ibu, tanamkanlah aqidah Islam yang benar kepada anak dan didiklah mereka menjadi generasi terbaik yang akan menjadi benteng peradaban Islam yang mulia. Bekerjasamalah bersama ayah dalam membina mereka.
6. Doronglah anak-anak untuk menghafal Al Quran, memahami maknanya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.
Pada intinya, jadikanlah rumah sebagai fondasi, tempat awal lahirnya sosok-sosok pribadi terbaik umat Islam yang menjalankan ajaran Islam sepenuhnya sehingga dari sanalah insya Allah keberkahan dan ridho Allah akan tercurah.
Dengan tidak di sangka-sangka rumah akan terasa nyaman, damai, penghuninya indah dipandang mata.


Anda ingin punya keluarga yang sehat? Ada kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga yang wajib dilakukan. Dr. Mehmet  C.Oz, MD atau dikenal dengan panggilan Dr. Oz, seorang ahli bedah dari Colombia University,  yang juga sekaligus penulis dan bintang televisi untuk acara-acara kesehatan di Amerika Serikat memberi saran-saran sebagai berikut :
1.   Jangan Biarkan Rasa Lapar Mendera
Mengosongkan perut hingga rasa lapar bercokol dapat membuat hormon ghrelin, si penimbul rasa lapar, melonjak drastis. Begitu mulai makan, akan dibubutuhkan waktu setengah jam untuk kembali menormalkan hormon tersebut. Namun dalam waktu 30 menit itu, kalori yang terasup akan lebih melimpah ketimbang jika Anda makan sebelum perut benar-benar kosong;
2. Membiasakan Sarapan Dan Makan Siang
Agar sehat, seluruh anggota keluarga harus terbiasa sarapan dan makan siang. Dr Oz menyarankan untuk memulai hari dengan semangkuk oatmeal yang dilengkapi dengan minyak biji rami, kacang-kacangan, atau kismis sebagai pemanis. Untuk makan siang, Dr Oz menyarankan sup sayuran, daging, atau roti gandum utuh yang dilengkapi dengan ikan tuna.
3.   Rutin Berolahraga 20 Menit Per Hari Di Rumah
Mayoritas orang akan menikmatinya dan justru melakukannya lebih dari 20 menit. Ragam olahraga yang bisa dilakukan di rumah misalnya bermain lompat tali, sit up dan push up secara bergantian, mempelajari senam dari video, atau berjalan-jalan di lingkungan sekitar.
4.   Menjadi Orangtua Yang Bijak Saat Berbelanja
Mungkin akan sulit bagi para orang tua, tetapi keputusan perihal apa yang akan disantap keluarga harus dibuat saat berbelanja. Jika orangtua membelikan keripik atau kue manis, secara alami anak-anak akan berebut memintanya. Lain halnya jika coklat maupun keripik memang tidak dibeli sejak awal, anak-anak tak akan merindukan camilan-camilan tersebut. Dr Oz menganjurkan para orangtua untuk mengganti keripik atau kue manis dengan kacang-kacangan, buah, atau sayuran;
5.   Makan Malam Bersama Setiap Malam
Studi menunjukkan bahwa jika orangtua ingin anak menghargai betapa berharganya tubuh dan kesehatan mereka, orangtua tak bisa menanamkannya hanya dengan sekali duduk. Ritual sederhana seperti makan malam bersama justru lebih ampuh. Pasalnya makan malam bersama dapat membentuk kebiasaan makan anak sekaligus membuatnya bersikap lebih terbuka pada orangtua.Saat keluarga makan bersama, akan tercipta keharmonisan emosional yang menurut saya sangat krusial untuk kesehatan jangka panjang;
6.   Membiasakan Bermain Bersama
Sama seperti berolahraga selama 20 menit, kunci kesehatan keluarga ialah melakukan aktivitas fisik secara bersama-sama. Bermain-main sampai keringat bercucuran dapat membuat Anda dan anak-anak menjadi bugar sekaligus gembira. Permainan yang dilakukan sederhana saja, cukup dengan sepak bola, berdansa bersama, atau latihan lempar bola. Bermain bersama anak-anak juga merupakan cara jitu agar para orangtua tetap berjiwa muda;
7.   Membiarkan Anak Menghakimi
Beri motivasi pada anak untuk selalu menyantap makanan sehat. Lalu, biarkan mereka menegur ketika Anda melenceng dari aturan yang telah ditetapkan. Menegur orangtua yang melakukan kesalahan karena menyantap junk food misalnya, akan membuat anak merasa menjadi bagian penting di keluarga alih-alih sebagai satu-satunya anggota keluarga yang harus selalu mematuhi aturan;
8.   Mengisahkan Cerita Sebelum Tidur
Sebelum tidur, orangtua sebaiknya mengisahkan dongeng pada anak-anak atau meminta anak menceritakan keseharian mereka. Jeda sebelum tidur ialah waktu paling tepat untuk mengulik kejujuran anak atau menyisipkan pengetahuan ke dalam benak mereka. Pastikan juga agar kegiatan tersebut menjadi rutinitas. 


Resolusi merupakan ajang untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah pernah dilakukan di tahun sebelumnya, yaitu tahun 2015. Baik kesalahan karena faktor ketidak pahaman atau ketidak tahuan maupun kelalaian yang sengaja di langgar demi memenuhi dorongan nafsu jahat. Berikut beberapa resolusi, agar dapat hidup dengan damai tanpa beban maksiat, beban finansial, beban penyakit dan beban ketidak harmonisan rumah tangga.
1.   Ruang Lingkup Keluarga
-      Menjaga kesehatan keluarga dengan makan yang sehat, minum madu, dan rajin        olahraga.
-      Menjaga dengan sepenuh hati istri dan anak-anak kita dari bahaya yang mengancam.
-      Mendidik anak-anak dengan pendidikan yang religius, mengenalkan perilaku-perilaku   yang tidak baik / menyimpang.
-      Mengajak anggota keluarga agar selalu mendirikan sholat baik wajib maupun sunnah,   berpuasa sunnah, membaca Al-Qur’an, dan Dzikir pagi dan sore.
-      Menghindari kebiasaan-kebiasaan yang buruk, seperti merokok, miras, selingkuh (zina), dan
-      Menjaga keuangan keluarga agar tidak terkuras habis dengan menjadi wirausaha dan bukan hanya menjadi konsumen.
2.   Ruang Lingkup Mencari Nafkah / Bekerja
-      Berniat diri bekerja untuk ibadah dalam memberi nafkah kepada anak dan istri.
-      Menjaga keharmonisan antar teman kerja, atasan, dan client perusahaan.
-      Memikirkan usaha-usaha baru dalam menyelesaikan segala problem perusahaan.
-      Meminta atasan agar menaikkan gaji yang layak :D
3.   Ruang Lingkup Sosial Masyarakat
-      Menjaga hubungan antar tetangga.
-      Saling menjaga satu sama lain dari gangguan atau perilaku-perilaku jahat.
-      Saling membantu kesulitan-kesulitan yang di hadapi oleh tetangga.
4.   Ruang Lingkup Bernegara
-      Menjaga dengan sepenuh hati kesatuan dan keutuhan negara.
-      Membayar pajak demi kelancaran operasional apartur dan belanja negara.
-      Mentaati UU yang berlaku.
-      Menghindari berbuat tindak pidana maupun perdata.
Mungkin masih banyak yang ingin kita ubah agar lebih baik di tahun 2016 ini, awalnya memang berat. Tapi kalau di laksanakan dengan baik, akan menjadi kebiasaan yang mengakibatkan kesuksesan dunia dan akhirat.


Puisi BJ Habibie Untuk Sang Istri Hasri Ainun

Siapa tak kenal Bacharuddin Jusuf Habibie atau biasa dipanggil BJ Habibie, bahkan panggilan akrabnya saat ini selain Rudy adalah Eyang. BJ Habibie dan istrinya, Hasri Ainun merupakan ikon Romeo-Julietnya Indonesia. Kecemerlangan otak, karir yang gemilang plus kisah cinta nan romantis keduanya menjadikan mereka menjadi inspirasi banyak orang.
Saling setia hingga salah satunya dipanggil keharibaan Sang Maha Kuasa, membuat masyarakat terharu. Kesetiaan itu terlihat dari puisi kecil yang diciptakan oleh Sang Pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) ini saat ditinggal pergi oleh sang istri, Ainun.
Membaca puisi tersebut, terasa jelas betapa rasa cinta yang besar Habibie pada Ainun. Kebersamaan selama 38 tahun bukanlah waktu yang singkat. Hanya Ibu Ainun yang ada di samping Pak Habibie dalam menapaki jatuh bangun kehidupan.
Betapa indahnya kisah asmara Habibie-Ainun, sehingga sampai detik ini pun masih dikenang oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Seperti apakah puisi ciptaan Habibie kekasih tercintanya Ainun? Puisi ini juga dibacakan Habibie diatas pusara Ainun, saat ia berziarah ke makamnya. Bagi yang ingin membacanya, mungkin bisa menyiapkan tisu lebih dulu karena isinya sangat mengharukan. Simak selengkapnya berikut ini :

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan calon bidadari surgaku

- Bacharuddin Jusuf Habibie –
Segala pujian hanyalah milik Alloh Swt., segala puja hanya kembali kepada-Nya. Semoga Alloh Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang memasukkan kita dan keluarga kita sebagai golongan manusia yang mencintai Alloh dan dicintai-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada suri teladan kita, nabi Muhammad Saw.
Saudaraku, barangsiapa yang merindukan berumahtangga sakinah, memiliki pasangan hidup dan keturunan yang benar-benar menjadi penyejuk hati dan penentram jiwa, juga ingin menjadi teladan bagi orang yang bertakwa, maka amalkanlah doa berikut ini. Sebuah doa yang diajarkan oleh Alloh Swt. kepada Rosululloh Saw. dan beliau mengajarkannya kepada kita,
 “..Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqon [25] : 74)
Robbanaa hablanaa min azwaajina wa dzurriyaatinaa qurrota a’yun, ya Alloh ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami pasangan hidup dan anak-anak yang menjadi penyejuk mata dan hati serta penentram jiwa. Waj’alnaa lillmuttaqiina imaama, dan jadikanlah kami sebagai panutan, teladan, bagi orang-orang yang bertakwa.
Jadi, keluarga yang sakinah itu adalah keluarga yang bersih tauhidnya. Keluarga yang yakin bahwa tidak ada karunia sekecil apapun kecuali hanya datang dari Alloh Swt. Karena orang-orang yang bertauhid itu pasti ketika melakukan alam kebaikan tidaklah karena alasan mencari pujian, penghargaan, imbalan dan balas budi dari makhluk.
Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang tulus dan ikhlas hanya berorientasi pada kecintaan dan keridhoan Alloh Swt. Dan kondisi seperti ini haruslah kita pinta kepada Alloh Swt., karena yang bisa membolak-balik hati hanyalah Alloh Swt.
Hanya Alloh Swt. yang bisa mengkaruniakan pasangan hidup kepada kita. Hanya Alloh Swt. yang bisa menghujamkan rasa cinta di dalam hati kita. Dan, Alloh Swt. juga yang bisa membimbing kita agar menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.
Mengapa kita pinta menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa? Karena jikalau kita berbuat sebaik apapun, pasti akan ada saja orang yang tidak suka kepada kita dengan berbagai macam alasan. Namun, teladan bagi orang yang bertakwa, maka standar yang digunakan adalah ahli takwa.
Alloh Swt. berfirman,
 “..Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu..” (QS. Al Hujurot [49] : 13)
Orang yang paling mulia di hadapan Alloh Swt. adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Maka betapa mulianya seseorang yang bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang dicintai oleh Alloh Swt. Inilah derajat tertinggi bagi sebuah keluarga.
Semoga Alloh Swt. mengkaruniakan kepada kita keluarga yang sakinah, keluarga yang senantiasa ingin mengenal dengan Alloh, ingin dekat dengan Alloh dan berupaya sekuat tenaga meraih cinta Alloh Swt. Robbanaa hablanaa min azwaajina wa dzurriyaatina qurrota a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.