:::: MENU ::::

Informasi Bisnis dan Umum

Tampilkan postingan dengan label Wonderful Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wonderful Indonesia. Tampilkan semua postingan
Percayakah Anda ada layang-layang yang telah berusia 4.000 tahun? Jika tidak, maka Pulau Muna di Sulawesi Tenggara telah membuat bangga Indonesia dengan salah satu kearifan lokalnya. Layangan (kaghati) kolope adalah budaya dari zaman prasejarah Pulau Muna dimana tidak hanya memiliki nilai sejarah tinggi tetapi juga karena layangan ini dibuat dari bahan alami oleh nenek moyang mereka. Penduduk setempat menyebut layangan tua ini dengan nama Kaghati Kolope. Layang-layang daun kolope berulang kali menjuarai Festival Layang-Layang Internasional dan telah membuat Pulau Muna terkenal di dunia. Anda dapat menjumpai layangan tradisional ini di Desa Mabolu, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Selatan.
Pulau Muna yang terkenal dengan kayu jatinya adalah sebuah pulau karst alami dengan pemandangan batuan kapur. Pulau ini memiliki ciri ngarai dan lubang-lubang yang merupakan hasil erosi. Pulau Muna dapat diakses selama 2 jam dengan menggunakan speedboat dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Layang-layang tradisional dari Pulau Muna ini terbuat dari lembaran daun kolope (daun gadung) yang telah kering kemudian dipotong ujung-ujungnya. Satu per satu daun tersebut dijahit dengan lidi dari bambu sebagai rangka layangan, sementara talinya dijalin dari serat nanas hutan.
Permainan layang-layang (kaghati) oleh nenek moyang masyarakat Muna telah dilakukan sejak 4 ribu tahun lalu. Hal ini berdasarkan penelitian Wolfgong Bick tahun 1997 di Muna. Wolfgong Bick berasal dari Jerman dan merupakan salah seorang Counsultant of Kite Aerial Photography Scientific Use of Kite Aerial Photography. Awal penelitiannya dilatarbelakangi saat Festival Layang-Layang Dunia di Prancis tahun 1997. Saat itu layangan Kaghati Kolope dari Indonesia tampil sebagai juara mengalahkan Jerman. Hal ini membuatnya berkeinginan menelusuri keunikan Kaghati Kolope dan mengantarkannya ke Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Tepatnya di Gua Sugi Patani, Desa Liang kobori sekitar 8 km dari Raha, ibu kota Pulau Muna. Gua ini berada di sebuah bukit setinggi 80 meter dengan kemiringan 90 derajat.
Dalam penelitiannya Wolfgong Bick melihat sendiri lukisan tangan manusia yang menggambarkan layang-layang di dalam Gua Sugi Patani, Desa Liangkobori. Di situs prasejarah tersebut tergambar seseorang sedang bermain layang-layang di dinding batunya dengan menggunakan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dengan getah pohon). Gambar itu sudah dicoba untuk dihapus tetapi tidak bisa. Penemuan lukisan di Gua Sugi Patani dikatakan Wolfgong Bick telah mematahkan klaim bahwa layangan pertama berasal dari China pada 2.400 tahun lalu. Layangan yang ditemukan di China menggunakan bahan kain parasut dan batang almunium. Sementara layangan dari Pulau Muna terbuat dari bahan alam dan telah menjadi bagian kehidupan masyarakatnya. Bieck meyakini, layangan pertama di dunia berasal dari Muna, bukan dari China. Wolfgong Bick mengambil foto-foto dalam gua tersebut kemudian menuliskan penelitiannya dalam artikel berjudul ”The First Kiteman” di sebuah majalah Jerman tahun 2003.
Selain kaghati, di Pulau Muna ada kamanu-manu yaitu layangan yang terbuat dari tiga helai daun kolope atau daun gadung lalu di rangkai dengan lidi (lio) yang terbuat dari bambu dan dianyam dimana di bagian kiri kanan lidi ditaruh bulu ayam. Membuat Layang-Layang dari Daun Kolope Mengolah daun kolope menjadi kertas layang-layang tidaklah mudah. Kini hanya segelintir orang di Pulau Muna yang bisa membuat layang-layang dari daun kolope khas Pulau Muna. Daun kolope hanya merekahkan daunnya sekitar bulan Mei ketika iklim musim penghujan tiba namun saat itu daun terlalu muda untuk diolah menjadi kertas layang-layang. Baru sekitar bulan Juli daun kolope sudah cukup matang untuk dipetik sebagai bahan layangan.
Cara lain adalah menungu daun kolope itu kering secara alami lalu gugur di tanah. Akan tetapi, daun seperti itu terlalu rapuh dan mudah robek serta hasilnya kertas kolope akan berwarna kuning. Kualitas terbaik daun Kolope adalah dipetik saat daun menua lalu panaskan di atas bara api (dikandela). Barulah setelah itu daun dijemur selama dua hari. Hasilnya bahan layangan berupa kertas putih, elastis dan kedap air. Untuk satu layang-layang, dibutuhkan sekitar 100 lembar daun Kolope. Setelah menjadi kertas putih, daun-daun itu direkatkan satu sama lain pada sisi-sisinya sehingga menjadi satu lembaran yang utuh. Lembaran kertas dari daun kolope tersebut dikepik dengan kerangka kayu dan disimpan selama 5 hari.
Berikutnya, lembaran itu dirajut dengan tali agar menjadi lembaran utuh kertas layang-layang. Sambil menunggu, dibuat kerangka layang-layang dari bambu (patu-patu) dan talinya dari daun nenas hutan. Daun nenas yang dipetik pun adalah pilihan yaitu daun tua. Daun ini tidak langsung diolah melainkan disimpan dahulu selama 2 hari. Setelah kering, daun dikerok dengan bambu sehingga yang tersisa hanya serat lalu dicecar menjadi jumbai-jumbai benang. Jumbai-jumbai benang selanjutnya dipilin menjadi seutas tali yang siap dipakai. Satu helai daun nenas hutan dapat menghasilkan 10 meter tali layang-layang.
Ketika kerangka dan tali sudah siap, kemudian disatukan menjadi satu layang-layang Kolope utuh. Berikutnya adalah diberi sentuhan terakhir berupa nada dering (kamumu). Kamumu adalah semacam pita suara yang dibuat dari daun nyiur yang apabila ditiup angin akan bergetar dan menghasilkan bunyi khas mendayu terutama saat layangan dibiarkan terbang saat malam hari. Setiap layangan memiliki ukuran kamumu masing-masing sesuai seleranya sehingga suara yang dihasilkannya juga menjadi spesifik dan dapat dikenali. Bagi telinga yang sering mendengar bunyi kamumu akan segera dapat menebak pemilik layang-layang yang terbang di langit saat malam hari. Layangan ini terbuat dari daun kolope kedap air sehingga tahan di udara selama berhari-hari atau sekehendak pemiliknya kapan pun ingin diturunkan.
Menurut cerita turun temurun masyarakat Liang Kabori di Pulau Muna bahwa layang-layang adalah permainan petani pada masa lalu dimana mereka menjaga kebun sambil bermain layang-layang. Masyarakat Pulau Muna juga percaya bahwa layang-layang berfungsi sebagai payung yang akan menjaga pemiliknya dari sengatan sinar Matahari bila ia meninggal dunia. Ketika si pemilik ini meninggal, ia berpulang dengan berpegangan pada tali layangan dan bernaung di bawah layang-layang tersebut.
Saat ini, kaghati kolope masih dimainkan petani di Pulau Muna terutama setelah masa panen. Biasanya angin yang baik untuk layangan di Pulau Muna adalah bulan Juni-September. Pada periode tersebut angin timur bertiup kencang sehingga mampu menerbangkan layang-layang selama 7 hari tanpa pernah diturunkan. Bila selama 7 hari layang-layang yang diterbangkan tidak jatuh maka si pemilik layang-layang akan menggelar syukuran. Akan tetapi, setidaknya, hobi ini telah ada sekitar 400 tahun di Muna. Pulau Muna telah beberapa kali menjadi tuan rumah festival layang-layang.(Him/Indonesia.travel)



Indonesia memiliki situs manusia purba terbesar di dunia loh, nama nya Situs Sangiran. Situs Sangiran merupakan salah satu situs Manusia Purba yang terbesar dan terpenting di dunia. Situs Sangiran terdapat di Kabupaten Sragen dan Karanganyar. Pada situs Sangiran telah ditemukan sebanyak sekitar 100 fosil manusia purba (Homo erectus) atau 50% lebih temuan fosil Homo erectus di dunia, dan lebih dari 60% yang ditemukan di Indonesia. Oleh karena kandungannya yang mempunyai nilai tinggi pada kesejarahan dan ilmu pengetahuan, maka Situs Sangiran telah ditetapkan sebagai daerah Cagar Budaya. Selain itu, UNESCO telah menetapkan Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia (World Culture Heritage).
Koleksi Museum Sangiran
Berikut ini adalah beberapa koleksi yang tersimpan di Museum Sangiran :
1.   Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus (replika), Pithecanthropus mojokertensis(Pithecanthropus robustus) (replika), Homo soloensis (replika), Homo neanderthal Eropa (replika),Homo neanderthal Asia (replika), dan Homo sapiens.

2.     Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus(gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinoceros sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).

3.       Fosil binatang laut dan air tawar, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Moluska (kelas Pelecypoda dan Gastropoda), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera.

4.       Batuan, antara lain rijang, kalsedon, batu meteor, dan diatom.

5.      Artefak batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak. Sebagai bagian dari warisan budaya dunia (World Culture Heritage) serta bagian dari Cagar Budaya Nasional, Situs Sangiran memiliki kandungan nilai tinggi pada kesejarahan dan ilmu pengetahuan, maka sudah sepantasnya Situs Sangiran perlu terus dijaga kelestariannya.



Museum Nabi Muhammad akan direplikasi di lantai dasar Mesjid Provinsi Jawa Barat konsep terapung yang rencananya segera dibangun di Gedebage, Kota Bandung.
Demikian dikatakan Asda II Pemprov Jabar Deny Juanda Puramidaja ketika studi banding rombongan Pemprov Jabar ke Museum Asmaul Husna, Madinah, Arab Saudi, Sabtu (4/6/2016) siang waktu setempat. Selain mengunjungi museum tersebut, rombongan juga akan datang ke Museum Nabi Muhammad, Mekkah.
"Tujuan ke Madinah dan Mekah berkunjung ke museum adalah melakukan studi rinci tentang latar belakang, makna, dan pilihan strategi perwujudan museum. Sehingga tercipta proses pembelajaran bagi masyarakat dunia untuk lebih mengagumi kekuasaan Allah SWT," katanya di Museum Asmaul Husna.
Selain Deny, turut dalam rombongan adalah arsitek dan dosen ITB, Baskoro Tedjo, serta Bayu Wahyudin (alumni ITB dari Tim Perencanaan Mesjid Terapung Gede Bage). Mereka diterima Husna Mufassir, Pembimbing Musium Asmaul yang juga mahasiswa Indonesia di Universitas Islam Madinah. Dalam kesempatan itu, diberikan pula cendera mata dari Husain Abdul Hakam sebagai Ketua Pembimbing Musium Asmaul Husna.
Ia menjelaskan, kelak mesjid akan digunakan sebagai tempat ibadah di lantai atas dan lantai dasar untuk berbagai keperluan ummat, termasuk museum tadi. Mesjid akan berukuran 99 x 99 meter dengan dua lantai serta bisa dipakai 30-50 ribu jamaah. Mesjid sendiri dibangun di kawasan 21 hektar.
"Studi museum juga menjadi inspirasi dan rujukan dalam menyusun Kerangka Acuan Kerja serta belajar model pemanfaatan museum sebagai tempat belajar, sehingga terjadi peningkatan kualitas keimanan multi level generasi penerus," katanya.
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) dalam sejumlah kesempatan mengatakan pembangunan masjid terapung di atas danau buatan di Gedebage, Kota Bandung, ditargetkan dimulai bersamaan dengan hari jadi Provinsi Jawa Barat.
 “Mudah-mudahan 19 Agustus,” katanya di Gedung Sate, 28 Maret 2016 lalu, seraya mengatakan sudah memilihkan nama untuk masjid yakni Al-Jabbar. Menurut dia, nama itu sengaja dipilih karena mirip dengan singkatan “Jawa Barat”, juga ilmu matematika “aljabar”. Konsep arsitektur masjid terapung itu dipilihkan oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menggunakan rumus matematika. Gubernur memang meminta sejumlah fasilitas ada di dalamnya, termasuk museum merujuk di Mekkah dan Madinah tadi.
Pemerintah provinsi membiayai pembebasan lahan dan pembangunan fisik masjid yang dirancang dibangun dalam 2 tahun itu. “Total (anggarannya) sekitar Rp 500 miliar,” pungkasnya. 


Kesadaran masyarakat terhadap halal kini terus meningkat. Pemahamannya tidak hanya soal makanan dan minuman untuk dikonsumsi, tapi menyangkut wisata halal, fashion halal, kosmetika halal dan lainnya. Tak dimungkiri, halal dalam kehidupan masyarakat menjadi tren dan kebutuhan.
Potensi halal market di dunia dari tahun ke tahun semakin meningkat mencapai angka 1.087 miliar dolar dan diprediksi semakin naik pada tahun 2030 mencapai 1,8 moliar dolar. Sedangkan GDB negara-negara Islam (OKI) 7.740 triliun dolar.
Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara tetangga Malaysia yang sudah puluhan tahun lalu menerapkan jaminan halal. Namun, lambat laun perkembangan halal di Indonesia terus meningkat. Bahkan di sektor wisata halal, Indonesia berhasil merebut tiga gelar World's Best Halal di Abu Dhabi, Uni Emiray Arab, Oktober 2015 lalu.
Berangkat dari keadaan tersebut, dipandang perlu adanya panduan wisata halal untuk muslim dalam rangka mengangkat wisata yang dimiliki oleh Indonesia. Oleh karenanya, majalah The Indonesia Halal Life Style & Business meluncurkan edisi perdananya hari ini di Jakarta (28/4).
Pemimpin Umum Halal Lifestyle & Business, Sapta Nirwandar mengatakan bahwa majalah ini diterbitkan untuk mewadahi semua kalangan yang antusias terhadap halal dalam bentuk cetak serta dilengkapi dalam media digital untuk mengikuti perkembangannya setiap hari secara real time.
"Halal adalah brand dan identik dengan kebaikan sehingga sejumlah negara dan negara-negara di Asia seperti Jepang, Korea bahkan Australia tidak ragu mengembangkan Halal Tourism sebagai brand. Mereka bahkan memiliki buku panduan wisata untuk muslim karena merupakan tambahan pelayanan. Indonesia sangat butuh majalah ini dijadikan panduan wisata halal", tambah Sapta.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH. Ma'ruf Amin menyambut baik kehadiran majalah ini. Dalam sambutan, Ma'ruf Amin berharap majalah ini menjadi langkah strategis, terutama dalam konteks mempromosikan potensi dan perkembangan syariah di Indonesia, baik secara bisnis maupun praktik kenegaraan dan kemasyarakatan.
"Saat ini, halal sudah menjadi isu global, bukan hanya kuliner tapi mencakup segala aspek kehidupan, bahkan perbankan, oleh karenanya kehadiran majalah ini dirasakan tepat sasaran," tambah Ma'ruf Amin.
Senada dengan Ma'ruf Amin, Wakil Direktur LPPOM MUI, Ir. Osmena Gunawan memandang urgensi majalah ini tepat, yakni untuk mempromosikan halal yang ada di Indonesia.
"Semoga Majalah The Indonesia Halal Life Style & Business dapat mempermudah masyarakat dalam mengakses halal di Indonesia," tutup Osmena.



Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri, Indonesia punya segala syarat untuk menjadi tempat berbulan madu yang sempurna. Dari Raja Ampat hingga Yogyakarta, ada 10 tempat terbaik untuk honeymoon di Indonesia.
Indonesia punya segala syarat untuk menjadi tempat bulan madu terbaik. Ada lautan yang biru menggoda, kota yang indah, hingga danau tenang yang cantik. Berikut 10 destinasi bulan madu terbaik di Indonesia :
1.   Raja Ampat, Papua Barat

Tidak hanya surga para penyelam, Raja Ampat juga menjadi surganya para pengantin baru. Keindahan bawah air, terumbu karang, dan pantainya, akan menjadi pelengkap yang spesial saat menghabiskan bulan madu Anda.
Terletak di Papua Barat, kecantikan Raja Ampat telah dikenal hingga mancanegara. Ada ratusan jenis terumbu karang dan jenis ikan laut yang cantik di perairannya. Di pantai tiap pulau-pulau kecilnya, ada pasir putih yang menggoda. Bagi pengantin baru, menikmati Raja Ampat adalah bulan madu idaman. Anda seolah berbulan madu di surga!
Penginapan atau resor yang paling terkenal di Raja Ampat adalah Missol Eco resort. Dengan tarif jutaan rupiah per malamnya, Anda dapat bersantai dengan lautan biru di depan Anda. Air laut yang jernih dengan ikan-ikan hias dan karang-karang begitu jelas terlihat di bawah Anda. Sungguh terasa sangat sempurna menghabiskan waktu di tempat ini dengan orang tercinta.
2.   Bukittinggi, Sumatera Barat

Buktitinggi memang memiliki udara yang dingin dan sejuk. Pada siang hari pun, Anda tidak akan merasakan gerah di kota ini. Meski sudah ramai kendaraan, suasananya masih tenang dan tidak semerawut. Inilah daya tarik Bukittinggi untuk menjadi referensi bulan madu Anda.
Beberapa objek wisata pun dapat Anda kunjungi bersama pasangan. Ada Ngarai Sianok, Jam Gadang, hingga Lubang Jepang. Anda pun bisa menyewa bendi, kendaraan tradisional seperti delman, untuk mengelilingi kotanya. Jangan lupa untuk berfoto bersama, karena pemandangannya sangat indah.
Untuk menginap, ada banyak hotel-hotel berbintang di sekitar Jam Gadang. Koceknya pun mulai dari Rp 200 ribu sampai jutaan rupiah per malamnya. Suasana dan udara di Bukittinggi, menjadi suguhan utama untuk para pengantin baru.
3.   Makassar, Sulawesi Selatan

Makassar pun cocok untuk menjadi tempat berbulan madu para pengantin baru. Ada suguhan alam yang berupa kekayaan bawah laut, hingga aneka kuliner yang dapat Anda nikmati bersama pasangan di sana.
Makassar tidak pernah sepi didatangi para wisatawan, tak terkecuali pengantin baru. Sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, ada banyak pilihan tempat menginap mulai dari kelas berbintang hingga kelas melati.
Untuk soal wisata, Makassar mempunyai beberapa tempat-tempat yang menarik. Anda bisa menyelami dunia bawah laut di Pulau Samalona, menikmati sunset di Pantai Losari, merasakan sejuknya Malino, atau mengunjungi benteng Fort Rotterdam yang bersejarah. Jangan lupa untuk mencicipi kuliner khas Makassar yang lezat bersama pasangan.
4.   Yogyakarta

Tidak hanya backpacker, pengantin baru juga dapat menghabiskan masa-masa bulan madu di Kota Gudeg ini. Yogyakarta memiliki banyak tempat menarik dan berbagai macam atraksi, serta penginapan yang bermacam.
Yogyakarta sungguh sempurna sebagai tempat berbulan madu bersama pasangan. Di kotanya, terdapat Malioboro yang penuh dengan aneka kuliner dan beragam penjual suvenir. Anda bisa menghabiskan waktu bersama pasangan di angkringan sambil ditemani suasana Malioboro yang khas. Selain itu, objek wisata lainnya dapat Anda jelajahi bersama pasangan, antara lain Taman Sari, Istana Ratu Boko, Candi Prambanan, beraneka macam desa wisata, hingga Pantai Parangtritis dan Pantai di Gunungkidul.
Di pusat kotanya terdapat beragam macam penginapan, mulai dari kelas backpacker hingga hotel berbintang akan mudah ditemukan. Mengunjungi
Yogyakarta bersama pasangan akan terasa sangat menyenangkan. Jangan lupa untuk menyaksikan pertunjukan Sendratari Ramayana di Candi Prambanan, inilah kisah cinta Rama dan Shinta.
5.   Ubud, Bali

Setiap traveler, pasti setuju jika Ubud dijadikan destinasi untuk bulan madu. Jika Kuta adalah pestanya anak muda yang penuh hingar bingar, maka Ubud adalah tempat yang penuh ketenangan. Tidak ada wanita berbikini atau anak muda yang menenteng botol bir, di Ubud hanya ada sawah dan hutan yang hijau dan suasana yang tenang.
Hal itulah yang menjadikan Ubud sebagai tempat yang tepat untuk berbulan madu. Selain suasananya, ada juga objek-objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Objek tersebut antara lain Gua Gajah, berbagai macam museum bertemakan seni, Pasar Sukawati, dan masih banyak lagi.
Untuk bermalam, ada banyak hotel dan resort yang siap memanjakan Anda bersama pasangan. Bermalam di Ubud akan menjadi sensasi yang tidak terlupakan, suasananya akan menghangatkan asmara Anda bersama pasangan.
6.   Gili Nanggu, Lombok

Ingin merasakan bulan madu dengan hamparan pasir putih? Datang saja ke Gili Nanggu di Lombok. Pulau kecil ini berada di Lombok Barat, atau sekitar 1 jam perjalanan ke arah selatan Kota Pelabuhan Lembar. Di sini ada Langit biru cerah, pantai berpasir putih, dan air laut yang berwarna biru kehijauan.
Di Gili Nanggu pun hanya terdapat satu tempat penginapan, yaitu Gili Nanggu Cottage. Uniknya, cottage ini bergaya tradisional lengkap dengan atap jeraminya. Meski demikian, tidak sedikit pengantin baru menginap di tempat ini dan merasakan pengalaman yang tidak terlupakan.
Siang harinya, Anda bisa snorkling dan bermain di hamparan pasir putihnya. Tunggulah saat senja, sunsetnya akan menjadi penutup yang manis saat Anda menikmati suasana pantai bersama pasangan.
7.   Danau Toba, Sumatera Utara

Di Sumatera Utara, ada Danau Toba yang membentang indah. Kecantikan alam ini pun dapat menjadi tujuan destinasi bulan madu Anda berikutnya. Pesona danaunya akan mengisi hari-hari indah Anda berdua.
Hamparan air biru nan tenang dengan pemandangan hijau di sekelilingnya akan meneduhkan pandangan. Mengarungi Danau Toba bersama pasangan dengan perahu, akan menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Di tengah-tengah danaunya, ada Pulau Samosir dengan terdapat kebudayaan khas masyarakat Batak.
Di sekitar danau ada banyak penginapan yang dapat Anda tempati. Bermalamlah bersama pasangan di sana dan rasakan kecantikan Danau toba tiap waktunya.
8.   Kampung Sampireun, Garut

Kampung Sampireun di Garut, merupakan resort yang berada di atas danau dengan nuansa Sunda yang kental. Suasana romantis akan menjadi jaminan selama Anda menghabiskan waktu bersama di tempat ini.
Kampung Sampireun berada di Jl Raya Samarang Kamojang, Kecamatan Samarang, Garut, Jawa Barat, atau sekitar 6 jam dari ibukota. Tempat ini sangat cocok untuk pasangan yang dimabuk cinta menghabiskan waktu bersama. Berada di ketinggian 1.000 mdpl, sejuknya udara akan menyelimuti Anda berdua. Tempat ini pun berada di atas danau, sehingga Anda bisa menghabiskan waktu bersama pasangan di atas perahu dengan alam yang hijau.
Tempat ini mempunyai 22 bungalow yang berada di atas pada pinggir-pinggir danaunya. Dengan kocek Rp 400 ribu-jutaan rupiah, Anda bisa menghabiskan waktu bersama pasangan dan menikmati romantisme ala nuansa Sunda.
9.   Pulau Ora, Maluku

Pulau Ora di Maluku Utara tidak kalah cantik dengan Maladewa. Apalagi, di pulau ini ada resor di atas lautnya sebagai tempat spesial bagi pengantin baru. Ingin mencoba?
Perjalanan ke pulau ini memang tidak mudah dan memakan waktu yang lama. Akan tetapi, keindahannya akan membuat Anda berdua diam tertegun karena keindahannya. Lautan biru kehijauan nan jernih, menjadi sajian utama di pulau ini. Alam bawah lautnya pun sungguh kaya!
Anda bisa menikmati Pulau Ora lebih lama dengan bermalam di resor kayunya. Uniknya, resor ini tidak berada di atas daratan, tapi langsung di atas air laut. Jadi, ketika Anda membuka pintu kamar saat pagi hari, air laut seakan mengajak Anda untuk bermain bersama. Apalagi saat siang hari, ada ikan-ikan cantik yang terlihat jelas saat Anda bersantai di teras resornya. Dijamin, Anda akan mendapatkan
pengalaman yang tidak terlupakan di sana.
10.       Pulau Moyo, NTB

Satu lagi tempat bulan madu yang penuh dengan nuansa dan pantai yang indah, yaitu Pulau Moyo di NTB. Banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan oleh Anda dan pasangan saat berada di lokasi ini. Mulai dari trekking, diving, sampai berlayar.
Ya, Anda bisa menjelajahi hutan rimba bersama pasangan. Hal ini akan memberikan sensasi tersendiri untuk bulan madu Anda. Selain itu, lautan dan pantainya juga sangat indah. Pantainya juga masih terjaga kebersihan dan keindahannya, jadi bulan madu Anda akan terasa nyaman dan menyenangkan.
Salah satu resor di Pulau Moyo adalah Amanwana. Meski harganya mencapai Rp 8 juta per malam, dijamin Anda tidak akan menyesal. Dengan bentuk bangunan yang menyerupai tenda, Anda akan bermalam dengan pasangan di tengah kecantikan alam. Saat bangun pagi, hamparan pasir putih akan menyambut Anda. Hotelnya pun sangat tenang dan suasananya tidak akan terlupakan.