:::: MENU ::::

Informasi Bisnis dan Umum

Tampilkan postingan dengan label Kriminal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kriminal. Tampilkan semua postingan
(Puspen TNI). Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Tatang Sulaiman di Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Rabu (18/5/2016) menegaskan, menyikapi terkait maraknya penyebaran atribut dan simbol Partai Komunis Indonesia (PKI) dikalangan masyarakat, TNI selaku komponen utama dalam mempertahankan kedaulatan negara telah melakukan berbagai upaya mengantisipasi berkembangnya paham Komunisme/Marxisme/Lenimisme.
“Hingga saat ini TNI telah bekerjasama dengan Kepolisian melaksanakan penertiban penggunaan atribut dan simbol yang berbau paham komunisme. TNI baik secara institusi maupun individu menempatkan hukum sebagai Panglima Tertinggi dalam melaksanakan tugasnya, hal ini selaras dengan kode etik prajurit yaitu tunduk kepada hukum yang tertuang dalam Sumpah Prajurit TNI,” kata Mayjen TNI Tatang Sulaiman.
Lebih lanjut disampaikan Kapuspen TNI bahwa dalam menyikapi perkembangan penyebaran ajaran komunisme dan berbagai macam atribut PKI tersebut, TNI mengacu pada TAP MPRS XXV/1966, TAP MPR 1/2003 dan UU RI NO 27/1999 (Pasal 107 A sd 107 F) tentang kejahatan terhadap keamanan negara sebagai norma hukum dalam menjalankan tugasnya. “Telah diketahui bersama dan secara jelas bahwa PKI sejak tanggal 5 Juli 1966 telah dinyatakan sebagai sebagai organisasi terlarang dan telah dibubarkan di seluruh wilayah Indonesia, serta larangan berbagai kegiatan untuk menyebarkan dan mengembangkan faham dan ajarannya,” tegas Kapuspen TNI.
Mengacu kepada norma hukum tersebut, maka sikap dan tindakan prajurit TNI apabila menemukan penyebaran atribut dan simbol PKI, maka hukumnya wajib untuk menindak terhadap pelanggaran hukum yang selanjutnya diserahkan kepada pihak Kepolisian. “Dengan demikian tindakan yang dilakukan oleh para Komandan Satuan dan prajurit di lapangan dalam menertibkan maraknya atribut dan simbol PKI sudah benar dan sesuai aturan, jika TNI membiarkan dan tidak menindaknya maka justru TNI akan disalahkan karena melanggar pasal pembiaran terhadap kejahatan yaitu Pasal 164 KUHP,” tambah Mayjen TNI Tatang Sulaiman.
Peran ini harus diambil oleh aparat keamanan (TNI) sebagai perwujudan hadirnya negara, jika TNI lalai maka kelompok-kelompok masyarakat akan ambil alih peran tersebut sehingga kelompok masyarakat akan saling berhadapan, bertikai dan ini kehancuran.
Sejalan dengan hal tersebut, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo telah menyampaikan himbauan kepada seluruh elemen masyarakat untuk tetap waspada dalam menyikapi fenomena kebangkitan PKI, karena bisa jadi ini merupakan upaya adu domba. Yang perlu dilakukan adalah mewujudkan persatuan sesama elemen bangsa agar kejadian G/30/S PKI tahun 1965 tidak terulang kembali, karena hal tersebut dapat memecah belah bangsa Indonesia menjadi dua kelompok saling bertikai dan saling membunuh.


Penulis buku laris berjudul 'Jangan Sedih' (La Tahzan), Dr 'Aidh al-Qarny
Koresponden Al Jazeerah di Filipina mengabarkan, ulama Arab Saudi yang juga dikenal sebagai seorang juru dakwah, Dr 'Aidh Al Qarni terluka akibat kontak senjata yang terjadi di Filipina Selatan. 
Dikabarkan, akibat kontak senjata antara aparat militer dengan gerilyawan di kota Zambuwanaga, Filipina Selatan menyebabkan lima orang pendamping 'Aidh Al Qarni, tewas karena tertembak.
Syaikh Salman al Audah seperti dikutip Al Jazeera.net, menyebutkan saat ini kondisi Dr 'Aidh Al Qarni -- yang di Indonesia dikenal sebagai penulis buku laris Laa Tahzan (Jangan Bersedih) -- sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Filipina Selatan. '
'Peristiwa yang dialami 'Aidh Al Qarni dan pendampingnya akibat kontak senjata di Filipina Selatan, terjadi usai 'Aidh Al Qarni memberikan ceramah,'' ungkapnya.


Mobil Syekh Ali Jaber Dicuri
Ujian datang pada siapa saja, dan dalam bentuk yang berbeda-beda. Mohon doanya atas musibah kehilangan mobil Innova Putih B 2142 TFA milik Syekh Ali Jaber yang biasa digunakan untuk kegiatan dakwah dan sosial. Insya Allah menjadi hikmah dan pelajaran untuk kita semua. Kejadian tanggal 21 Februari 2016 saat subuh jam 05.00
Ini Video Lengkap Proses Pencurian Mobil Syekh Ali Jaber :

 Sumber :



Tepatnya pada suatu malam sekitar jam 22.00 WIB di seputaran sesaknya kota Jakarta, saya mengendarai sepeda motor milik bapak guru (bapak angkat red). Seperti biasa saya pulang beraktivitas dengan muka yang penuh senyum karena membawa lebih banyak hasil penjualan hari itu. Di tengah perjalanan yang dilalui begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang hingga seakan-akan penuh dan tidak muat untuk menampung beban kendaraan, seperti biasa kemacetan pun tak bisa dihindari.
Begitu sampai di rumah saya di suruh menjemput kawan seperjuangan di kelurahan sebelah yang berjarak sekitar 0,5 km, meskipun dalam keadaan masih lelah dan letih setelah berjuang melewati kemacetan Jakarta. Saya berangkat menggunakan motor Mio menuju kesana, biasanya kalau jemputan terlambat, kawan saya pulang duluan dengan berjalan kaki. Belum separuh perjalanan saya menjumpai segerombolan anak-anak (preman red) yang asyik nongkrong di pinggir jalan, saya terus memacu kendaraan dengan pelan. Alangkah terkejutnya sesampai di gerombolan anak-anak tersebut, saya menemui kawan saya yang di keroyok. Saya pun berhenti persis didekat mereka, dan mereka pun memalak saya “Mana duit?!!... Gue minta duit...” Belum sadar kalau itu adalah pemalakan, sebuah tinju mendarat di atas mata saya, spontan saya merasa kesakitan dan memegangi mata yang benjol. Kawan saya masih terus di keroyok dengan pukulan-pukulan ringan, “Gak punya uang... Gak punya uang... Jangan maksa gi tu donk”.. Begitu kata teman saya.
Belum puas menyakiti saya mereka pun ingin merampas motor yang saya kendarai, tapi Alhamdulillah tidak sampai diambil karena keburu si ketua preman berhenti memukuli kawan saya yang dari tadi dipukuli. Ketika sedang asyik-asyiknya mereka memukuli kawan saya, kawan saya sempat terlontar kata “Engko’ ta’ endhi’ pesse je” Begitu kata kawan saya, yang artinya “Saya ga punya uang”.
Spontan mendengar kata-kata itu si bos preman kaget dan bertanya ke kawan saya “Ben Oreng madureh le’?”. Yang artinya ”Kamu orang madura ya?”.
Di jalan saya banyak bersyukur pada Alloh karena tidak apa-apa, meski muka sedikit benjol. Dongkol, jengkel bercampur aduk di loyang dada, ingin rasanya saya balas dendam, menampar muka mereka satu persatu.
Begitu sampai rumah saya laporin ke Bapak guru saya, kemudian ke RT di lingkungan saya. Kita menuju ke lokasi yang jadi tempat nongkrong anak-anak tadi, tapi bagai di telan bumi, mereka lenyap entah kemana.

Kisah ini bisa diambil pelajaran, gara-gara dari suku yang sama yaitu madura, si preman tadi jadi gagal untuk melakukan aksi kejinya. Entah mereka karena takut sama Carok madura, atau merasa kasihan. Mungkin bisa dicoba ketika dijalan mengalami hal seperti ini, pakai bahasa-bahasa daerah madura, sunda, jawa, manado, dan ambon. Pesan dari saya hindari jalanan yang sepi dan gerombolan anak-anak (preman red), ketika melintas di jalanan ibu kota.